Asteroid Raksasa Dulu Sering Hantam Bumi

Asteroid Raksasa Dulu Sering Hantam Bumi

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 26 Okt 2021 05:45 WIB
Asteroid
Asteroid Raksasa Dulu Sering Hantam Bumi (Foto: Brainberries)
Jakarta -

Tabrakan asteroid tetap menjadi salah satu bencana alam paling berbahaya yang mungkin terjadi. Namun, hanya sedikit bencana akibat tabrakan asteroid yang diingat.

Bumi sangat sering dihantam asteroid kuno. Di tahun-tahun awal Bumi terbentuk, planet kita yang saat itu masih sangat muda, dibombardir dengan ganas oleh asteroid purba yang besar, 10 kali lebih sering daripada yang diyakini sebelumnya. Akibat seringnya hantaman itu terjadi, kemungkinan menunda munculnya kehidupan di Planet Bumi.

Dampak yang dicatat dalam penelitian ini terjadi selama Archean Eon, periode antara 2,5 miliar dan 4 miliar tahun yang lalu. Selama waktu ini, lingkungan planet sangat jauh berbeda. Tak diragukan lagi, seperti dikutip dari Jerusalem Post, Selasa (26/10/2021) bombardir asteroid mengubah lanskap Bumi lebih jauh.

Untuk menganalisis sisa-sisa asteroid, para ilmuwan menciptakan model efek dari tabrakan ini. Menurut temuan mereka yang diterbitkan dalam jurnal akademik Nature Geoscience, dampak asteroid besar terjadi sekitar sekali setiap 15 juta tahun. Hasil analisis ini 10 kali lebih sering daripada yang diprediksi pemodelan sebelumnya.

Ini pun bukan asteroid kecil. Beberapa di antaranya berukuran raksasa, atau sekitar 10 kilometer. Sebagai perbandingan, NASA memberi label asteroid 140 meter atau lebih yang mendekati planet ini sebagai Potentially Hazardous Asteroid (PHA) atau asteroid berpotensi berbahaya karena bisa menyebabkan kerusakan besar pada Bumi.

Ketika asteroid besar ini menabrak Bumi, akan terbentuk bola tumbukan, kemudian asteroid meleleh serta menguapkan bagian kerak planet. Ini menyebabkan mereka membentuk gumpalan raksasa di atas permukaan sebelum batuan cair itu mengembun dan mengeras.

Kemudian, mereka akan jatuh kembali ke planet sebagai partikel seukuran butiran pasir, mengendap di kerak. Semakin banyak lapisan bola yang muncul, semakin banyak dampak yang akan terjadi.

Pengaruh dampak asteroid ini mungkin jauh lebih dari sekadar menyebabkan kerusakan pada lanskap. Bahkan, mereka mungkin telah mengubah sifat kimia atmosfer.

Menghalau asteroid

Sifat merusak dari asteroid, bahkan yang kecil sekalipun, menjadi perhatian para ahli. Badan antariksa di seluruh dunia memantau potensi dampak bencana, serta meneliti cara potensial untuk menghentikannya.

Salah satu metode untuk kemungkinan menghentikan dampak asteroid adalah melalui penggunaan defleksi, yaitu meluncurkan sesuatu untuk sedikit membelokkan jalur asteroid.

Upaya ini salah satunya adalah dengan mengerahkan misi Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA yang akan diluncurkan pada bulan November tahun ini. Dalam istilah awam, misi ini akan menghajar asteroid dengan roket dengan kecepatan yang cukup untuk mengubah arahnya menjadi sepersekian persen sehingga tidak jadi mengenai Bumi.

Metode lain yang diusulkan pada Juli 2021 oleh perusahaan penerbangan Airbus menyarankan alternatif dengan menggunakan ulang satelit TV, membajaknya dan memanfaatkannya untuk membelokkan asteroid.

Masih ada lagi cari lainnya, yaitu meledakkan asteroid menggunakan nuklir saat jaraknya masih cukup jauh sehingga tidak sampa menghantam Bumi. Metode lainnya yang diusulkan adalah menggunakan penetrator kinetik untuk meledakkan inti asteroid, dan metode ini dapat dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Lihat juga Video: Fantastis! Misi Lucy NASA Jelajahi Asteroid Senilai Rp 13,9 Triliun

[Gambas:Video 20detik]



(rns/fay)