Riset: Yang Percaya Konspirasi Lebih Mungkin Positif COVID-19

Riset: Yang Percaya Konspirasi Lebih Mungkin Positif COVID-19

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 25 Okt 2021 22:35 WIB
Corona Viruses against Dark Background
Orang-orang yang percaya bahwa COVID-19 adalah sebuah konspirasi juga membuat diri mereka dalam bahaya. Mereka rentan positif corona ketimbang yang percaya. Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Selain membahayakan orang lain, orang-orang yang percaya bahwa COVID-19 adalah sebuah konspirasi juga membuat diri mereka dalam bahaya. Mereka lebih rentan positif Corona ketimbang mereka yang tidak percaya konspirasi.

Sebuah studi baru menunjukkan bagaimana kepercayaan semacam itu dapat memengaruhi dan memprediksi perilaku orang, berpotensi memberi mereka paparan yang lebih besar terhadap ancaman infeksi, dan lebih banyak lagi. Temuan ini dilaporkan dalam Psychological Medicine sebagaimana dilansir Science Alert, Senin (25/10/2021).

"Bahkan jika teori konspirasi sangat tidak masuk akal menurut logika atau bukti ilmiah, jika tampak nyata bagi yang melihatnya itu memiliki dampak nyata pada sikap, emosi, dan perilaku," para peneliti menjelaskan dalam sebuah makalah yang dipimpin oleh penulis utama sekaligus psikolog sosial Jan-Willem van Prooijen dari Vrije Universiteit Amsterdam di Belanda.

Fenomena ini pun telah ditunjukkan dalam banyak penelitian, menunjukkan bahwa cara orang berpikir mempengaruhi perilaku mereka dalam berbagai cara. Untuk mengeksplorasi hal ini, van Prooijen dan rekan peneliti mensurvei 5.745 peserta dalam sebuah panel yang dibobot guna mewakili sampel populasi Belanda yang besar.

Di awal pandemi (April 2020), peneliti menanyakan sejumlah pertanyaan yang mengukur tingkat kepercayaan mereka terhadap teori konspirasi COVID-19. Salah satu pertanyaannya termasuk apakah mereka mengira Virus Corona adalah senjata biologis yang direkayasa oleh para ilmuwan, konspirasi untuk mengambil hak warga negara atau menutupi kehancuran ekonomi global yang akan datang.

Beberapa bulan kemudian, kelompok yang sama disurvei lagi, kali ini menjawab pertanyaan tentang apakah mereka pernah dites untuk COVID-19, apakah tes itu positif atau negatif, dan apakah mereka pernah melanggar peraturan COVID-19, di antara banyak lainnya.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta teori konspirasi lebih mungkin kena COVID-19 alias positif SARS-CoV-2 dibandingkan dengan peserta yang tidak memiliki keyakinan seperti itu.

Selain itu, penganut konspirasi lebih mungkin kehilangan pekerjaan dan pendapatan selama pandemi. Data menunjukkan bahwa mereka juga lebih mungkin mengalami penolakan sosial, kemungkinan karena pandangan mereka ini.

Akan tetapi perlu diingat bahwa ada batasan untuk kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari penelitian ini. Para peneliti menekankan bahwa eksperimen mereka tidak bisa digeneralisasi. Ada faktor lain yang tidak terukur yang pada akhirnya dapat bertanggung jawab atas hasil yang terlihat dalam data.

Perlu juga dicatat meskipun ini adalah survei besar, ini masih hanya segelintir perwakilan, dan hanya responden di Belanda. Terlebih hanya sedikit di Belanda yang percaya bahwa COVID-19 adalah konspirasi.

Terlepas dari keterbatasan itu, para peneliti mengingatkan bahwa kepercayaan pada konspirasi COVID-19 pada akhirnya dapat menimbulkan kerugian serius, bahkan berbahaya bagi individu.

"Mereka yang mempercayai teori konspirasi di awal pandemi, pada 8 bulan kemudian kena dampaknya pada kesehatan dan kesejahteraan," tulis tim tersebut.



Simak Video "Airlangga Klaim Kasus Covid RI Lebih Baik Dibanding Singapura dkk"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)