Mengapa Kalau Crazy Rich Kita Julid, Sedangkan ke Elon Musk Tidak?

Mengapa Kalau Crazy Rich Kita Julid, Sedangkan ke Elon Musk Tidak?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 22 Okt 2021 21:14 WIB
Studio portrait of an attractive woman wearing an elegant evening gown against a gray background
Mengapa kita cenderung julid dengan kekayaan 'crazy rich' tapi tetap bisa menyukai Elon Musk yang notabene orang terkaya di dunia? Ini jawabannya. Foto: iStock
Jakarta -

Mengapa kita cenderung julid dengan kekayaan orang-orang kelas atas alias crazy rich tapi tetap bisa menyukai Elon Musk yang notabene orang terkaya di dunia? Pertanyaan ini menarik untuk digali dan ternyata sudah ada studi yang mengangkat masalah ini.

The Ohio State University dan Cornell University menerbitkan penelitian baru yang menunjukkan mengapa orang cenderung mengagumi miliarder individu, tetapi tidak menyukai kelas sosial ekonomi orang yang sangat kaya.

Penelitian, yang melibatkan 2.800 peserta di delapan eksperimen yang berbeda, menemukan bahwa orang umumnya percaya bahwa individu menjadi kaya karena mereka cerdas, berbakat dan pekerja keras, dan layak mendapatkan kekayaan mereka.

Tetapi ketika membahas soal kelompok individu kaya, seperti eksekutif C-suite atau 1% teratas dari penerima upah Amerika, kebanyakan orang memiliki pandangan yang lebih sinis. Mereka mengaitkan kekayaan kelompok itu dengan keberuntungan.

"(Keberhasilan mereka berkat) sistem ekonomi yang sudah menguntungkan kelompok tersebut," kata Jesse Walker, penulis utama studi tersebut dan asisten profesor di Fisher College of Business, Ohio State University.

Dalam salah satu eksperimen studi, peserta diberitahukan sebuah fakta bahwa gaji CEO dari 350 perusahaan terbesar di Amerika telah tumbuh dari 48 kali rata-rata pekerja pada tahun 1995 menjadi 372 kali hari ini. Satu kelompok membaca bahwa semua gaji CEO telah meningkat, sementara kelompok lain membaca tentang seorang CEO tertentu dari sebuah perusahaan besar, bisnis elektronik yang berbasis di Phoenix, Avnet, yang gajinya meningkat.

Hasilnya, jauh lebih banyak orang di kelompok kedua yang mengatakan bahwa CEO pantas mendapatkan lebih dari karyawan rata-rata.

Lebih lanjut, Walker mengatakan cara policy maker (pembuat keputusan) dan media menentukan juga pandangan masyarakat tentang ketidaksetaraan yang dapat memengaruhi toleransi orang terhadap perbedaan kekayaan yang ekstrem.

Selama pandemi COVID-19 ini, miliarder Amerika terus mendapat untung. Miliarder telah tumbuh USD 2,1 triliun lebih kaya selama pandemi, dengan kekayaan kolektif mereka meningkat 70%, menurut data yang dianalisis pada hari Senin oleh kelompok advokasi American for Tax Fairness dan Institute for Policy Studies. Demikian dikutip dari CNBC, Jumat (22/10/2021).

Akan tetapi, donasi yang diberikan serta dorongan untuk membayar pajak seperti yang Bill Gates sempat serukan membuat masyarakat menjadi lebih menyukai individu miliarder ketimbang kelompok super kaya alias crazy rich. Meski begitu, perlu penelitian lebih lanjut untuk membahas isu menarik ini.

Yuk jangan julid ya, detikers. Tenang saja semua orang sudah punya rezekinya masing-masing. Siapa tahu nanti kita bisa sesukses Elon Musk atau Bill Gates. Amin? Aamiin....



Simak Video "KuTips: Cara Ngabisin Duit Ala Crazy Rich"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)