BMKG: Ilmu Titen Ambyar Akibat Perubahan Iklim

BMKG: Ilmu Titen Ambyar Akibat Perubahan Iklim

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 11 Okt 2021 18:43 WIB
Pulau Miangas yang berada langsung di bibir Samudera Pasifik sering dilanda cuaca ekstrem. Akibatnya nelayan tidak bisa melaut dan warga terancam krisis pangan.
BMKG: Ilmu Titen Ambyar Akibat Perubahan Iklim (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta -

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan ilmu titen yang kerap menjadi pegangan nelayan, ambyar akibat perubahan iklim.

Ilmu titen adalah ilmu tradisional Jawa berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri alam, biasanya digunakan untuk membaca gejala alam yang mendahului datangnya bencana. Ilmu titen bukanlah ilmu yang bersifat ilmiah, melainkan berupa kumpulan pengamatan yang dilakukan berulang-ulang.

Karena perubahan iklim, kini tak jarang nelayan harus pulang melaut dengan tangan kosong karena hasil melaut tidak maksimal. Bahkan, mereka kerap mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi. Demikian dilansir dari BMKG, Senin (11/10/2021).

"Ilmu Titen sudah sangat sulit untuk dijadikan acuan. Cuaca dan iklim saat ini sangat dinamis dan sukar untuk ditebak," ungkap Dwikorita Karnawati saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (7/10).

Dwikorita mengatakan, perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu Bumi tak hanya berdampak pada naiknya temperatur Bumi, tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, termasuk ekosistem wilayah pesisir.

Dicontohkan olehnya, saat banjir besar yang menyergap Jabodetabek di penghujung tahun 2019 hingga awal tahun 2020 lalu. Berdasarkan prakiraan yang terkonfirmasi dari analisis BMKG, kejadian tersebut disebabkan oleh seruak udara dingin (cold surge) dari Tibet ke Hong Kong yang selanjutnya masuk ke wilayah Jabodetabek. Cold surge sendiri merupakan serukan yang mengandung massa udara dingin dari daratan Asia ke arah selatan.

Artinya, perubahan iklim inilah yang kemudian menjadi biang keladi cuaca ekstrem yang kerap menghantam Indonesia. Mulai dari hujan lebat disertai kilat dan petir, siklon tropis, gelombang tinggi, hingga hujan es. Meski bukan berasal dari Indonesia, lanjut dia, dampaknya bisa dirasakan oleh Indonesia.

"Perubahan iklim sendiri adalah peristiwa global, namun dampaknya dirasakan secara regional ataupun lokal. Tidak ada batasan teritorial negara," imbuhnya.

Dijelaskannya, kondisi ini memacu BMKG menggencarkan pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di daerah-daerah pesisir pantai. Melalui SLCN yang digelar, BMKG ingin nelayan dapat melaut, mendapatkan hasil dan pulang dengan selamat.

SLCN sendiri, kata dia, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan nelayan Indonesia dalam mengakses, membaca, menindaklanjuti dan mendiseminasikan informasi cuaca, iklim maritim serta informasi prakiraan lokasi ikan dari sumber yang terpercaya. Selain itu, SLCN juga menjadi bagian dari upaya BMKG mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

"Kegiatan SLCN ini menggunakan pembelajaran interaktif, yaitu metode belajar dan praktik. Materi pokok yang akan diberikan yaitu pengenalan produk dan memahami informasi cuaca dan iklim maritim, cara membaca informasi maritim dan pengenalan alat-alat observasi," imbuhnya.

Perkenalkan SIRITA dan EWS Radio Broadcaster

Dalam kesempatan yang sama, Dwikorita juga turut memperkenalkan inovasi teknologi terbaru yang dirilis BMKG untuk menunjang sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Inovasi tersebut bernama SIRITA dan EWS Radio Broadcaster yang sengaja dihadirkan sebagai respons BMKG atas meningkatnya aktivitas kegempaan di Indonesia.

EWS Radio Broadcaster merupakan moda diseminasi berbasis suara guna mengantisipasi kerusakan jaringan komunikasi selular pasca gempa merusak. System ini memanfaatkan jaringan komunikasi berbasis radio yang banyak digunakan oleh pegiat kebencanaan dan komunitas radio berbasis masyarakat seperti RAPI dan ORARI.

Komunitas radio dijadikan sebagai hub untuk menyebarkan informasi yang cepat, akurat serta ramah terhadap kelompok masyarakat rentan yang memiliki keterbatasan menelaah pesan berbasis teks. Sedangkan SIRITA adalah aplikasi sirine tsunami berbasis Android yang dibuat untuk memudahkan Pemerintah Daerah menyampaikan perintah evakuasi kepada masyarakat sebagai bentuk peringatan dini.

"Inovasi ini menjadi terobosan di tengah kendala akan banyaknya sirine tsunami yang mati akibat usia pakai atau yang rumahnya jauh dari sirine yang terpasang. Handphone akan mengeluarkan suara kencang layaknya sirine, sehingga peringatan dininya bersifat sangat personal," paparnya.



Simak Video "Kepala BMKG Sebut Cuaca Sukar Ditebak Akibat Perubahan Iklim"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)