Fenomena Astronomi Oktober 2021: Hujan Meteor - Hari Tanpa Bayangan

Fenomena Astronomi Oktober 2021: Hujan Meteor - Hari Tanpa Bayangan

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 04 Okt 2021 13:46 WIB
Jakarta -

Para pencinta astronomi, jangan sampai kalian terlewat fenomena langit di bulan Oktober. Kalau perlu, catat tanggal-tanggal penting di kalender astronomi berikut ini.

Dihimpun detikINET, Senin (4/10/2021) berdasarkan kalender astronomi bulan Oktober yang dirilis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), berikut ini beberapa fenomena astronomi menarik yang layak ditunggu.

1. Hari Tanpa Bayangan

Hari tanpa bayangan di Indonesia masih berlangsung hingga Oktober. Ini adalah hari tanpa bayangan yang kedua kali pada tahun ini. Yang pertama sudah terjadi sejak akhir Februari hingga awal April silam, sedangkan yang kedua, terjadi tanggal 6 September-21 Oktober mendatang. Untuk melihat jadwal lengkap hari tanpa bayangan per wilayah, bisa lihat di tautan berikut ini.

2. Puncak Hujan Meteor Draconid (8 Oktober)

Hujan meteor Draconid aktif sejak 6-10 Oktober, dan puncaknya terjadi pada 8 Oktober pukul 16.00 WIB/17.00 WITA/18.00 WIT. Hujan meteor Draconid adalah hujan meteor yang terkenal dengan variasi intensitasnya dan di masa silam pernah memproduksi beberapa badai meteor (mendekati 1.000 meteor per jam).

3. Konjungsi Triple Bulan-Venus-Antares (9-10 Oktober)

Bulan mengalami konjungsi dengan Venus dan Antares, bintang utama di konstelasi Skorpius selama dua hari sejak 9 Oktober. Dapat disaksikan dari arah barat-barat daya sejak 20 menit setelah terbenam Matahari selama 2,5 jam.

Mula-mula, Bulan berkonjungsi dengan Venus dengan sudut pisah Venus-Antares sebesar 8,1 derajat. Keesokan harinya, Bulan meninggalkan Venus dan berkonjungsi dengan Antares dengan sudut pisah 3,7 - 4,4 derajat. Sedangkan sudut pisah Venus-Antares sebesar 7,1 derajat. Magnitudo Venus sebesar -4,30 sedangkan magnitudo Antares sebesar +1,05. Bulan berfase sabit awal dengan iluminasi 11,8%-20,6%.

4. Penampakan Pertama Merkurius saat Fajar (17 Oktober)

Setelah Merkurius mengalami ketampakan terakhir ketika senja dan konjungsi inferior, planet ini teramati kembali ketika fajar sejak 17 Oktober. Merkurius dapat disaksikan saat awal fajar bahari dari arah timur selama 20 menit dan terletak dekat konstelasi Virgo. Magnitudo Merkurius sebesar +1,16 dan Merkurius berjarak 46.460.000 km dari Matahari.

5. Puncak Hujan Meteor Epsilon Geminid (18-19 Oktober)

Epsilon Geminid adalah hujan meteor yang titik radian (asal kemunculan meteor)-nya terletak di konstelasi Gemini dekat bintang Epsilon Geminorium. Fenomena hujan meteor ini aktif sejak 14-27 Oktober, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 19 Oktober 2021 pukul 05.00 WIB/06.00 WITA/07.00 WIT.

6. Puncak Hujan Meteor Orionid (21 Oktober)

Hujan meteor Orionid aktif sejak 2-7 Oktober dan puncaknya terjadi pada 21 Oktober pukul 18.00 WIB/19.00 WITA/20.00 WIT. Hujan meteor ini dinamai berdasarkan titik radiannya yang terletak di konstelasi Orion.

Hujan meteor Orion berasal dari sisa debu komet Halley yang mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali. Meteor-meteor Orionid memasuki atmosfer Bumi pada kecepatan 67 km/detik.

7. Puncak Hujan Meteor Leonis Minorid (25 Oktober)

Leonis Minorid adalah hujan meteor yang titik radian atau asal kemunculan meteornya terletak di konstelasi Leo Minor, dekat konstelasi Leo. Hujan meteor ini aktif sejak 19 hingga 27 Oktober mendatang, dan intensitas meteor maksimumnya terjadi pada 25 Oktober 2021 pukul 09.00 WIB/10.00 WITA/11.00 WIT.

Hujan meteor ini dapat disaksikan dari arah timur Laut sejak pukul 03.00 waktu setempat hingga 20 menit sebelum terbit Matahari. Intensitas maksimum saat titik radiannya berada di zenit sebesar 3 meteor per jam.

(rns/fay)