2 Syarat RI Punya Bandara Antariksa, SpaceX Gabung?

2 Syarat RI Punya Bandara Antariksa, SpaceX Gabung?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 28 Sep 2021 14:44 WIB
Jakarta -

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengungkapkan dua syarat pembangunan bandara antariksa di Indonesia. SpaceX, perusahaan besutan Elon Musk, ikut berpartisipasi?

Bandara antariksa adalah pembangunan besar sebagai bentuk investasi modal dan melibatkan konsorsium penanaman modal yang besar. Menurut BRIN, kesiapan lahan dan investor merupakan dua syarat pembangunan antariksa Indonesia dimulai.

Disampaikan Handoko, jika dua syarat tersebut sudah jelas, maka BRIN akan memulai pembangunan roket pengorbit satelit.

"Kita akan bermitra dengan konsorsium swasta. Bandara ini nantinya bukan sekedar fasilitas negara untuk riset, tetapi juga untuk bisnis peluncuran satelit," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/9/2021).

Handoko mengakui, sudah ada beberapa konsorsium yang menyatakan minat. Namun karena sifatnya yang dirahasiakan, hal itu tidak dapat disebutkannya. Bisnis ini multinasional, sehingga membutuhkan kerjasama internasional.

Lebih lanjut, Handoko mengatakan, posisi geografis Indonesia lebih menguntungkan memiliki bandara antariksa untuk meluncurkan satelit. Kepala BRIN mengatakan, ada potensi penghematan bahan bakar karena gravitasi di Indonesia lebih mendukung dan lebih menguntungkan daripada India.

"Indonesia berharap memiliki kemandirian dalam meluncurkan satelit untuk komunikasi, surveilans, mitigasi perubahan iklim, mitigasi bencana, dan sebagainya," jelasnya.

LapanLapan Foto: detikcom

Mengenai Space X yang dikabarkan pernah berkomunikasi dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN (sebelumnya adalah Lapan) Erna Sri Adiningsih menegaskan bahwa komunikasi yang pernah berlangsung dengan SpaceX bukan dalam konteks pembangunan antariksa.

"Space X saat itu membantu memetakan lokasi penerbangan penumpang komersial antarbenua dengan menggunakan roket agar lebih hemat energi dan waktu dibandingkan jika menggunakan pesawat," terangnya.

Sebelumnya, Erna melanjutkan, Lapan sudah melakukan studi feasibilitas pada lahan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan di Biak sebagai calon pembangungan bandara antariksa Indonesia.

"Lokasi Biak diketahui sudah sesuai dalam hal teknis dan lingkungan secara fisik. Namun untuk luasannya harus diperluas karena belum memenuhi persyaratan minimum 1.000 hektar untuk kebutuhan yang lebih besar, selain itu ada aspek sosial budaya yang harus difikirkan secara serius," ungkapnya.

"Stasiun bumi di Biak sudah ada sejak lama sebelum BRIN terbentuk. Posisinya berbeda dengan lokasi yang diisukan akan dibangun bandara roket pengorbit satelit," sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BRIN juga menyampaikan bahwa Morotai adalah salah satu dari beberapa lokasi lainnya yang dipilih sebagai alternatif lokasi bandara antariksa untuk roket pengorbit satelit.

"Biak bukan satu-satunya lokasi ideal dan BRIN belum investasi apapun. Saat ini BRIN masih melakukan evaluasi terhadap perencanaan awal. Kajian serupa juga sudah dilakukan di beberapa lokasi lainnya," pungkas Handoko.

(agt/fay)