Lacak Asal Usul Virus Corona, Peneliti Tes Swab Kelelawar

Lacak Asal Usul Virus Corona, Peneliti Tes Swab Kelelawar

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 21 Sep 2021 22:15 WIB
Disebut Bisa Sembuhkan Asma, Daging Kelelawar Juga Bisa Bahayakan Kesehatan
Foto: Getty Images/iStockphoto/catinsyrup
Jakarta -

Dalam upaya memahami lebih dalam pandemi virus Corona COVID-19, para peneliti mengumpulkan sampel dari kelelawar di Kamboja utara, wilayah di mana virus yang sangat mirip ditemukan pada hewan sekitar satu dekade lalu.

Dua sampel dari kelelawar tapal kuda dikumpulkan pada tahun 2010 di provinsi Stung Treng dekat Laos dan disimpan dalam freezer di Institut Pasteur du Cambodge (IPC) di Phnom Penh.

Tes yang dilakukan pada mereka tahun lalu, mengungkapkan adanya keterkaitan kerabat dekat dengan virus Corona yang telah menewaskan lebih dari 4,6 juta orang di seluruh dunia.

Tim peneliti IPC yang beranggotakan delapan orang telah mengumpulkan sampel dari kelelawar termasuk dengan melakukan swab oral dan mencatat spesies, jenis kelamin, usia, dan detail lainnya selama seminggu. Penelitian serupa juga sedang dilakukan di Filipina.

"Kami berharap hasil dari penelitian ini dapat membantu dunia untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang COVID-19," kata koordinator lapangan Thavry Hoem seperti dikutip dari Reuters.

Spesies inang seperti kelelawar biasanya tidak menunjukkan gejala patogen. Meski demikian, ini bisa sangat merusak jika ditularkan ke manusia atau hewan lain.

Kepala Virologi di IPC Dr. Veasna Duong mengatakan, lembaganya telah melakukan empat perjalanan seperti penelitian kali ini dalam dua tahun terakhir. Mereka berharap bisa mendapatkan petunjuk tentang asal dan evolusi virus yang ditularkan oleh kelelawar.

"Kami ingin mencari tahu apakah virus itu masih ada, dan untuk mengetahui bagaimana virus itu berevolusi," katanya.

Untuk diketahui, virus mematikan yang berasal dari kelelawar antara lain Ebola dan virus Corona lainnya seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Namun Veasna Duong mengatakan manusia bertanggung jawab atas kehancuran yang disebabkan oleh COVID-19, karena gangguan dan perusakan habitat alami.

"Kalau kita coba dekat-dekat dengan satwa liar, kemungkinan virus dibawa oleh satwa liar lebih besar dari biasanya. Peluang virus bertransformasi menginfeksi manusia juga lebih besar," katanya.

Proyek yang didanai Prancis ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana perdagangan satwa liar dapat berperan, kata Julia Guillebaud, seorang insinyur penelitian di unit virologi IPC.

"(Proyek) ini bertujuan memberikan pengetahuan baru tentang rantai perdagangan daging liar di Kamboja, mendokumentasikan keragaman betacoronavirus yang beredar melalui rantai ini, dan mengembangkan sistem deteksi dini yang fleksibel dan terintegrasi dari peristiwa penyebaran virus," kata Gillebaud.



Simak Video "Kasus Turun Namun Banyak Provinsi Belum Update Data Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)