Ibu Primata Gendong Bayi Mereka yang Sudah Mati, Alasannya Bikin Mewek

Ibu Primata Gendong Bayi Mereka yang Sudah Mati, Alasannya Bikin Mewek

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 21 Sep 2021 09:20 WIB
Alecia Carter/Tsaobis Baboon Project
Alasan sedih ibu primata menggendong bayinya yang sudah mati ke manapun dia pergi. Foto: Alecia Carter/Tsaobis Baboon Project
Jakarta -

Para peneliti menyadari, bahwa dari pengamatan mereka, primata dari babon hingga kera kerap membawa bayi mereka setelah mereka mati. Ini juga terjadi pada spesies non-primata, tetapi yang tidak dipahami adalah motivasi atau alasan di baliknya. Ternyata, ada kisah sedih di balik primata yang menggendong bayi mereka yang telah tiada.

Dalam analisis terbesar dari perilaku semacam ini pada primata sejauh ini, menunjukkan bahwa perilaku membawa mayat bayi atau biasa disebut infant corpse carrying (ICC) ini bisa jadi adalah bagian dari proses berduka. Ada hubungan antara kekuatan ikatan ibu-bayi dan berapa lama perilaku ICC itu berlanjut.

Penelitian mengamati dari total 126 penelitian yang pernah dilakukan, yang mana mencakup 409 kasus ibu primata yang merespon kematian bayinya, terungkap fari 50 spesies primata yang termasuk dalam analisis 80% di antaranya menunjukkan perilaku ICC.

"Studi kami menunjukkan bahwa primata mungkin dapat belajar tentang kematian dengan cara yang mirip dengan manusia," kata antropolog Alecia Carter, dari University College London (UCL) di Inggris.

"Apa yang kita tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, adalah apakah primata dapat memahami bahwa kematian itu universal, bahwa semua hewan - termasuk diri mereka sendiri - akan mati," sambungnya sebagaimana mengutip Science Alert.

ICC paling sering diamati pada kera besar dan monyet Old World, dua spesies yang rata-rata juga membawa bayi mereka untuk waktu yang sangat lama setelah kematian. Bayi yang meninggal pada usia yang lebih muda (sehingga bisa dianggap memiliki ikatan yang lebih kuat dengan ibu mereka) digendong dengan durasi paling lama dibanding yang lain.

Beberapa primata, seperti lemur, tidak menunjukkan perilaku ICC tetapi kadang-kadang kembali ke mayat dan terus melakukan kontak ibu-bayi.

Faktor-faktor lain yang dipertimbangkan, seperti iklim, tampaknya tidak berpengaruh. Jadi bisa dibilang ini murni karena ikatan sosial. Fakta ini mendorong kemungkinan bahwa primata cenderung mirip dengan manusia dari segi ikatan sosial, tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih banyak tentang hal ini.

Ada kemungkinan bahwa manusia purba memperlakukan kematian bayi dengan cara yang sama seperti yang kita lihat pada primata-primata.

Kini, tim peneliti sedang mencari hubungan lain antara manusia dan primata dalam hal perilaku thanatologis. Untuk itu, mereka telah meluncurkan situs web bernama ThanatoBase bagi para peneliti untuk merekam lebih banyak pengamatan tentang bagaimana primata bertindak seputar kematian dan bagaimana perasaan mereka tentang hal itu.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B.



Simak Video "Studi Plasma Konvalesen: Bisa Jadi Alternatif Namun Efektifitasnya Rendah"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)