Analisa Ilmiah di Balik Misteri Burung Pipit Berjatuhan di Bali

Analisa Ilmiah di Balik Misteri Burung Pipit Berjatuhan di Bali

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 12 Sep 2021 17:19 WIB
Lokasi burung-burung pipit berjatuhan di Bali
Misteri jatuhnya burung pipit secara massal di Bali dari sudut pandang peneliti burung (Foto: Sui Suadnyana/detikcom)
Jakarta -

Kematian burung pipit yang terjadi secara massal di Bali membuat orang kebingungan. Peneliti pun memberikan pendapatnya mengenai kemungkinan yang terjadi.

Lokasi kematian burung-burung itu ada di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Gianyar. Burung-burung itu sering hinggap di pohon asem kuburan Banjar Sema. Kami pun menanyakan hal ini kepada pakarnya, Tri Haryoko Peneliti Burung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Jadi saya baca memang beberapa pendapat sudah disampaikan ya seperti karena hujan asam, perubahan cuaca, keracunan pestisida. Secara pasti kita harus menunggu hasil uji dari berbagai parameter yang ada," kata Tri kepada detikINET, melalui percakapan telepon Minggu (12/9/2021).

Dari autopsi, akan terlihat apakah ada penyebab-penyebab yang disebutkan sebelumnya benar atau tidak. Berkaca dari pengalaman lain, sebenarnya juga ada kemungkinan dari beberapa kejadian serupa yakni murni karena burung-burung tersebut mati kedinginan.

"Kejadian di Bali menurut saya fungsi dari bulu yang dimiliki burung untuk menjaga suhu tubuh dari perubahan cuaca tidak berfungsi. Kenapa terjadi? Karena kan saat hujan deras, kemudian kejadiannya juga kan di pohon asam," jabarnya.

Struktur pohon asam yang tidak lebar, daunnya kecil dan tidak rapat, membuatnya tidak bisa menahan laju curah hujan yang tinggi. Akibatnya, seperti layaknya diguyur sampai kuyup, burung pipit kesulitan untuk bertahan hidup.

"Walau secara struktur ada keratin, kelenjar minyak dan lainnya yang melindungi bulu dari air, kalau airnya diguyur deras ya tetap burungnya tidak bisa berlindung di balik daun. Sekalipun ada beberapa lapisan dan sistem anatomi, untuk menjaga tubuh hujan yang deras membuatnya tidak berhasil," jabarnya.

Tri mengatakan sebenarnya apabila penanganan pada burung-burung itu cepat, dalam artian dikeringkan bulunya sehingga suhu tubuhnya kembali normal, burung-burung itu bisa diselamatkan. Karena itu, di video yang viral ada sebagian burung yang masih hidup.

"Jadi ketika kedinginan, burungnya dikeringkan bulunya terus diletakkan di tempat yang panas, mungkin masih bisa selamat. Makanya dari video ada yang masih hidup, itu kemampuan bertahan hidup dia baik bisa jadi karena dia tidak terlalu kena air hujan," jabarnya.

"Tapi pastinya, kita tunggu hasil penyelidikan," tandas Tri.

Kematian massal burung pipit di sekitar makam kawasan Gianyar Bali masih berselubung misteri. Penyebab matinya hewan yang gemar makan padi itu hingga kini masih diselidiki. Autopsi menjadi satu wacana opsi.



Simak Video "Warga Sebut Burung Pipit di Bali Mati Massal Mirip Tahun 2018"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)