Ngeri! Badai Matahari Ekstrem Bisa Picu Kiamat Internet

Ngeri! Badai Matahari Ekstrem Bisa Picu Kiamat Internet

Tim - detikInet
Rabu, 08 Sep 2021 05:45 WIB
badai matahari
Ngeri! Badai Matahari Ekstrem Bisa Picu 'Kiamat Internet' Foto: Internet
Jakarta -

Matahari selalu menghujani Bumi dengan partikel magnet yang dikenal sebagai angin matahari. Semburan angin ini selalu bisa dihalau oleh medan magnet Bumi sehingga tidak menyebabkan kerusakan di permukaan.

Tapi tiap satu abad sekali, angin matahari ini berubah menjadi badai matahari yang lebih ekstrem. Menurut penelitian yang dipaparkan di SIGCOMM 2021, ada kemungkinan badai matahari seperti ini bisa mengganggu koneksi internet di Bumi.

Asisten profesor di University of California, Sangeetha Abdu Jyothi, dalam makalahnya mengatakan badai matahari yang ekstrem bisa mengakibatkan 'kiamat internet' yang membuat sebagian besar populasi sulit terhubung ke internet selama berminggu-minggu.

"Apa yang benar-benar membuat saya berpikir tentang ini adalah dengan pandemi kita melihat betapa tidak siapnya dunia," kata Abdu Jyothi kepada Wired, seperti dikutip dari LiveScience, Rabu (8/9/2021).

"Tidak ada protokol untuk menanganinya secara efektif, dan hal yang sama dengan ketahanan internet. Infrastruktur kami tidak siap untuk fenomenan matahari berskala besar," imbuhnya.

Persiapan menghadapi badai matahari ekstrem masih minim karena fenomena ini sangat jarang terjadi. Ilmuwan memperkirakan kemungkinan terjadinya fenomena cuaca luar angkasa yang berdampak langsung ke Bumi antara 1,6% hingga 12% per dekade.

Dalam seabad terakhir, hanya ada dua badai matahari ekstrem yang pernah tercatat yaitu pada tahun 1859 dan 1921. Badai matahari yang terjadi tahun 1859 juga disebut sebagai 'Carrington Event' yang menyebabkan kabel telegram terbakar, hingga aurora yang biasanya hanya ada di kutub terlihat di Kolombia.

Bahkan badai matahari yang terbilang kecil juga memiliki dampak yang cukup signifikan. Seperti badai matahari pada Maret 1989 yang membuat Provinsi Quebec di Kanada kehilangan tenaga listrik selama sembilan jam.

Karena saat ini populasi dunia sangat bergantung pada internet, Abdu Jyothi pun mencoba meneliti dampak dari badai geomagnetik raksasa terhadap infrastruktur internet di Bumi.

Dalam makalahnya, Abdu Jyothi mengatakan koneksi internet lokal dan regional kemungkinan tidak akan terdampak karena kabel fiber optik tidak akan terpengaruh oleh gelombang geomagnetik.

Lain halnya dengan kabel internet bawah laut yang menghubungkan negara bahkan benua. Kabel-kabel ini dilengkapi dengan repeater untuk mendorong sinyal optik yang ditempatkan tiap 50-150 km.

Repeater ini disebut rawan terhadap paparan gelombang geomagnetik, dan kabel internet bawah laut bisa tidak berfungsi jika salah satu repeater ada yang mati. Jika ada banyak kabel bawah laut yang tidak berfungsi di satu wilayah, kemungkinan koneksi di satu benua putus dengan benua lain.

Kawasan yang paling terdampak adalah Bumi belahan utara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris. Wilayah ini paling rentang terhadap badai matahari ekstrem dan jika terjadi maka negara-negara itu yang akan kehilangan koneksi internet terlebih dulu.

"Dampak ekonomi dari gangguan internet dalam satu hari di AS diperkirakan sekitar USD 7 miliar. Bagaimana jika jaringan tetap tidak berfungsi selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan?" kata Abdu Jyothi.

Jika badai matahari ekstrem selanjutnya menghampiri Bumi, Abdu Jyothi mengatakan kita memiliki waktu 13 jam untuk mempersiapkan diri.

Abdu Jyothi menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi fenomena ini dari sekarang. Misalnya dengan menempatkan kabel bawah laut di garis lintang yang lebih rendah, dan mengembangkan tes ketahanan yang fokus pada efek kegagalan jaringan skala besar.



Simak Video "NASA Tegaskan Informasi Matahari Terbit dari Barat Adalah Hoaks"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)