Duh, Bencana Alam Terkait Cuaca Melonjak 5 Kali Lipat

Duh, Bencana Alam Terkait Cuaca Melonjak 5 Kali Lipat

Fino Yurio Kristo - detikInet
Minggu, 05 Sep 2021 17:40 WIB
Cuaca ekstrim menerjang bumi dalam beberapa pekan ke belakang. Udara panas berpacu dengan kekeringan dan kebakaran. Di tempat lain, banjir dan tanah longsor mengintai.
Bencana kekeringan akibat perubahan iklim. Foto: AP Photo
Jakarta -

World Meteorogical Organization (WMO) menyampaikan jika bencana yang terkait dengan cuaca seperti badai, kekeringan atau banjir meningkat pesat sampai 5 kali lipat dalam 50 tahun terakhir. Namun berita baiknya, jumlah kematian justru mengalami penurunan.

Penyebab kenaikan itu apalagi kalau bukan perubahan iklim serta di sisi lain, sistem pelaporan bencana juga makin bagus. Sedangkan angka kematian menurun karena sistem peringatan dini yang lebih baik.

Seperti dikutip detikINET dari BBC, dalam periode 50 tahun antara 1970 sampai 2019, terjadi sekitar 11 ribu bencana yang terkait dengan fenomena cuaca. Adapun jumlah korban meninggal dunia mencapai 2 juta jiwa dengan kerugian ekonomi diestimasi total USD 3,64 triliun.

"Gelombang panas, kekeringan dan kebakaran hutan seperti yang kita lihat saat ini di Eropa dan Amerika Utara akan lebih banyak. Uap air di atmosfer sekarang lebih tinggi yang berujung hujan ekstrem dan banjir mematikan. Pemanasan lautan berdampak pada frekuensi dan area badai tropis intens," kata Sekjen WMO, Petteri Taalas.

Lebih dari 90% kematian akibat bencana cuaca terjadi di negara-negara berkembang. Kematian terbesar sebanyak 650 ribu jiwa diakibatkan oleh kekeringan. Sementara temperatur ekstrem menyebabkan korban meninggal 56 ribu jiwa.

Namun terjadi penurunan kematian daripada sebelumnya. "Di balik statistik itu ada harapan. Peningkatan sistem peringatan dini membuat penurunan signifikan kematian. Sederhananya, kita jauh lebih baik dalam menyelamatkan nyawa," cetus Petteri.

Namun demikian, ada kesenjangan soal sistem peringatan dini ataupun pemantau cuaca. Misalnya di Afrika, sebagian Amerika Latin dan kepulauan Pasifik dan Karibia masih perlu dilakukan peningkatan seiring perubahan iklim yang makin mengancam.



Simak Video "Anomali Cuaca Ekstrem Meningkat, Indonesia Harus Waspada"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)