Prancis Diklaim Pernah Ingatkan AS Soal 'Senjata' dari Lab Wuhan

Prancis Diklaim Pernah Ingatkan AS Soal 'Senjata' dari Lab Wuhan

Aisyah Kamaliah - detikInet
Sabtu, 31 Jul 2021 21:20 WIB
FILE - In this Thursday, Feb. 23, 2017 file photo, Shi Zhengli works with other researchers in a lab at the Wuhan Institute of Virology in Wuhan in central Chinas Hubei province. On Dec. 30, 2019, Wuhan health officials issued an internal notice warning of an unusual pneumonia, which leaked on social media. That evening, Shi, famous for having traced the SARS virus to a bat cave, was alerted to the new disease, according to an interview with Scientific American. Shi took the first train from a conference in Shanghai back to Wuhan. (Chinatopix via AP)
Ada klaim bahwa Prancis sudah memperingatkan AS soal China punya 'senjata biologis' sejak 4 tahun yang lalu sebelum pandemi. Foto: Chinatopix via AP
Jakarta -

Seorang mantan pejabat di bawah pemerintahan AS era Donald Trump mengklaim bahwa Prancis sudah memperingatkan AS soal senjata biologis di Lab Wuhan sejak empat tahun lalu, sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia.

Menurut David Asher selaku senior di Hudson Institute kepada Daily Caller News Foundations, intelijen pemerintahan Prancis telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) kalau China sudah mulai melenceng dari perjanjian awal mereka.

Jadi, pada awalnya, setelah wabah SARS 2003, Prancis dan China menandatangani perjanjian pada 2004 untuk membangun laboratorium keamanan hayati baru di Wuhan Institute of Virology untuk 'melawan dan mencegah penyakit baru'.

Seperti diberitakan The Sun, dilihat Sabtu (31/7/2021), Prancis berperan dalam menyediakan desain lab, pelatihan biosafety, dan sebagian besar teknologinya sebelum lab tingkat BSL-4 (yang sekarang menjadi pusat badai atas dugaan kebocoran lab) secara resmi dibuka pada tahun 2018. Di bawah kesepakatan antara Paris dan Beijing, sekitar 50 ilmuwan Prancis dikirim untuk membantu melatih pekerja laboratorium China dan mengawasi pekerjaan para peneliti.

Tapi para ilmuwan Prancis ini malah 'ditendang' dari lab Wuhan. Asher menyebut kejadian ini membuat mereka khawatir dengan apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh China dan apa alasan di balik itu semua.

Lalu, informasi lain menyebut pejabat keamanan nasional tidak ingin berbagi teknologi sensitif dengan China karena mereka khawatir lab itu suatu hari nanti dapat diubah menjadi 'persenjataan biologis', menurut media Prancis Le Figaro.

Departemen Luar Negeri AS telah mengklaim bahwa Wuhan Institute telah terlibat dalam penelitian rahasia atas nama militer China sejak 2017. Asher mengatakan pendanaan federal AS untuk laboratorium seharusnya dihentikan ketika Prancis memperingatkan Departemen Luar Negeri AS pada 2015. Dia mengatakan seharusnya pejabat Departemen Luar Negeri menutup semua kerjasama AS dengan China.

Memang, antara Oktober 2009 dan Mei 2019, US Agency for International Development (USAID) memberikan USD 1,1 juta kepada EcoHealthAlliance yang berbasis di AS untuk sub-perjanjian dengan lab. Sebuah pengawas federal juga sedang menyelidiki National Institutes of Health setelah terungkap bahwa organisasi tersebut memberikan lebih dari USD 800 ribu ke laboratorium China.

Gagasan bahwa COVID-19 mungkin muncul dari kebocoran laboratorium sebenarnya bukan hal baru, tetapi China telah berulang kali bersikeras kebocoran seperti itu sangat tidak mungkin. Baru-baru ini pihak lab Wuhan juga mengklaim tidak ada kebocoran patogen atau kecelakaan infeksi staf yang terjadi sejak laboratorium dibuka pada 2018.



Simak Video "3 Bantahan China ke WHO soal Kebocoran Lab Wuhan"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)