3 Alasan Jakarta Diprediksi Kota Paling Cepat Tenggelam di Dunia

3 Alasan Jakarta Diprediksi Kota Paling Cepat Tenggelam di Dunia

Tim - detikInet
Jumat, 30 Jul 2021 17:37 WIB
Monas merupakan sebuah tugu peringatan kegigihan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Hindia Belanda.
3 Alasan Jakarta Diprediksi Kota Paling Cepat Tenggelam di Dunia. Foto: Dok. Adhi Karya.
Jakarta -

Presiden AS Joe Biden menyinggung Jakarta yang diproyeksikan akan tenggelam. Prediksi Jakarta akan tenggelam bukan kali ini saja ramai dibicarakan. Sejak beberapa tahun lalu, sudah banyak kajian terkait hal ini.

Penelitian di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan bahwa pada tahun 2050, sekitar 95% wilayah Jakarta Utara akan terendam. Jakarta Utara yang merupakan sebuah kota pelabuhan, telah tenggelam 2,5 meter dalam 10 tahun dan terus tenggelam sebanyak 25 cm per tahun di beberapa bagian, lebih dari dua kali lipat rata-rata global untuk kota-kota besar pesisir.

Menurut laporan, Jakarta tenggelam rata-rata 1-15 cm per tahun dan hampir separuh kota sekarang berada di bawah permukaan laut. Tak hanya bagian utara, wilayah Jakarta lainnya juga perlahan tenggelam, meski dengan laju yang lebih lambat. Laporan itu menyebutkan bahwa di Jakarta Barat, tanah tenggelam sebanyak 15 cm setiap tahun, 10 cm setiap tahun di timur, 2 cm di Jakarta Pusat dan 1 cm di Jakarta Selatan.

Berikut ini tiga alasan mengapa Jakarta disebut sebagai kota yang paling cepat tenggelam di dunia, dikutip dari DowntoEarth.org, Jumat (30/7/2021):

Eksploitasi air tanah

Karena air pipa tidak dapat diandalkan, tersedia secara sporadis dan mahal, warga Jakarta terpaksa memompa air dari akuifer. Penggunaan air tanah yang berlebihan menyebabkan tanah di atasnya tenggelam dan ini menyebabkan penurunan tanah, sebuah fenomena di mana batuan dan sedimen menumpuk di atas satu sama lain.

Keputusan tahun 2009 untuk memulihkan tabel air oleh Kementerian Lingkungan Hidup gagal diterapkan karena tidak memiliki mekanisme untuk menegakkannya. Menurut keputusan tersebut, pemilik rumah dan bangunan komersial diharuskan untuk menyimpan air hujan dalam silinder biopori sedalam 3 kaki di properti mereka untuk menyerap dan menyimpan air hujan.

Perencanaan yang buruk

Laporan lainnya menyebutkan, pembangunan ekonomi berkontribusi memperburuk dampak penurunan tanah. Dampak penurunan tanah, terutama karena pengambilan air tanah, lebih besar terjadi ketika populasi cenderung meningkat di dekat daerah dataran rendah.

Pada tahun 2010, jumlah orang yang tinggal di daerah pesisir yang rentan di Indonesia adalah 47,2 juta. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi secara global, dan naik 35% sejak tahun 1990.

Urbanisasi yang tidak terkendali tanpa pengisian air tanah yang tepat, dapat memiliki efek menghancurkan. Banjir tahun 2015 di Chennai, Tamil Nadu, India, adalah contoh akibat dari hal serupa.

Perubahan iklim

Kota-kota pesisir terdampak karena naiknya permukaan air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Sebuah laporan menyebutkan, peningkatan permukaan air laut terjadi karena ekspansi termal (air meluas karena panas ekstra) dan mencairnya es di kutub. Para ahli menyarankan untuk memperkenalkan lagi hutan bakau dan meremajakan waduk yang sebenarnya merupakan bagian dari Kota Tua Jakarta.

Semua masalah ini, jika dikombinasikan, akan memperburuk efeknya. Karena pertumbuhan penduduk perkotaan meningkatkan permintaan air, kontribusi perubahan iklim akan lebih bervariasi lagi. Hal ini akan semakin meningkatkan eksploitasi air tanah. Robert Mcdonald, ilmuwan di organisasi lingkungan yang berbasis di AS mengatakan bahwa pada tahun 2050, 36% kota di dunia akan menghadapi krisis air.



Simak Video "Pemprov DKI Diminta Buktikan Omongan Biden soal 'Jakarta Tenggelam'"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)