Ini Dampak Negatif Olimpiade Tanpa Penonton Bagi Atlet

Ini Dampak Negatif Olimpiade Tanpa Penonton Bagi Atlet

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 28 Jul 2021 20:00 WIB
Sejumlah relawan beristirahat sambil memberikan dukungan saat pertandingan panahan Olimpiade Tokyo 2020 di Yumenoshima Park Archery Field, Tokyo, Jepang, Senin (26/7/2021). Penyelenggaraan Olimpiade yang diselenggarakan tanpa penonton dari kalangan umum tersebut merupakan keputusan di tengah kondisi darurat COVID-19 yang sedang diberlakukan di Ibu Kota Jepang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.
Studi: Olimpiade Tanpa Penonton Pengaruhi Performa Atlet. Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar tahun ini terasa berbeda karena berlangsung tanpa penonton. Sebuah studi menyebutkan, ketidakhadiran para supporter olahraga yang memberikan dukungan kepada para atlet secara langsung dari bangku penonton, berdampak pada performa atlet.

Seperti banyak hal lainnya, COVID-19 mengubah segalanya. Perdana Menteri Jepang memutuskan untuk melarang penonton, bahkan anggota keluarga atlet, memberikan dukungan secara langsung.

Keputusan yang berat ini harus dilakukan sebagai respons atas melonjaknya kasus COVID-19, terutama penyebaran varian Delta. Padahal dalam rencana sebelumnya, venue pertandingan boleh diisi dengan kapasitas 50% oleh penonton lokal.

Dikutip dari Scientific American, dari sudut pandang psikolog olahraga, Olimpiade tanpa kehadiran penonton adalah eksperimen sains kehidupan nyata yang membantu para peneliti dan dokter mengungkap dampak sebenarnya dari kerumunan penggemar pada para pemainnya, juga pada penonton di rumah.

Situasi canggung dan aneh karena pertandingan tanpa penonton dapat memberikan tekanan tak terduga pada beberapa atlet. Salah satu contohnya adalah pesenam AS Simone Biles. Mental sang superstar goyah dan dia memutuskan mundur dari nomor senam beregu putri.

"Pertandingan Olimpiade ini benar-benar membuat stres dan secara keseluruhan, tidak ada penonton. Ada banyak variabel yang mempengaruhi," ujarnya kepada Washington Post.

Louise Byrne, praktisi psikologi olahraga di Optimize Potential asal Inggris menyebutkan, perjuangan Biles kemungkinan tersebar luas di kalangan atlet Olimpiade tahun ini. Bagaimana tidak, ini menjadi salah satu cerita besar dari Olimpiade Tokyo 2020.

"Di lapangan, di mana pun kompetisi mereka, para pemain menghadapi ketidakpastian ini. Mereka menghadapi situasi yang belum pernah mereka alami sebelumnya," kata Byrne.

Sebagian dari ambiguitas ini, tambahnya, disebabkan juga oleh keputusan yang tiba-tiba untuk melarang penonton, beberapa minggu sebelum pertandingan dimulai.

Para penyelenggara pertandingan olahraga dituntut menemukan solusi kreatif untuk menggelar kompetisi tanpa penonton. Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol misalnya, keduanya melengkapi siaran pertandingan dengan kebisingan kerumunan dari video game sepak bola FIFA 20, dikombinasikan dengan audio sungguhan secara real time.

Contoh lainnya, tim bisbol Taiwan dan tim sepak bola Jerman mengisi deretan bangku penonton dengan guntingan karton berisi kata-kata penyemangat dari penggemar mereka, dan tren ini mulai populer secara internasional, terutama untuk pertandingan bisbol dan bola basket AS.

Potongan karton dimaksudkan untuk meringankan kesedihan melihat tribun kosong, dan bahkan untuk menghibur para penonton yang menonton dari rumah.

"Ada alasan mengapa sudut pengambilan kamera dari pertandingan olahraga yang disiarkan di televisi sering kali mencakup bagian dari tribun. Pandemi memperlihatkan peran penonton dalam budaya dan semangat olahraga," kata Daniel Wann, profesor psikologi dari Murray State University yang mempelajari psikologi olahraga dan perilaku penggemar.

Akustik lapangan atau stadion tanpa penggemar memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan, baik bagi pemain maupun penonton. Tanpa deru penonton, pertandingan terasa lebih membuat stres karena keheningan membuat dengusan nafas lebih terdengar, pembicaraan antara wasit, dan mungkin pembicaraan kasar yang tidak dimaksudkan bisa terdengar dan bisa menghajar mental atlet yang sedang berjuang.

Wann mengatakan dia sering memperhatikan para supporter olahraga dalam pertandingan yang berlangsung lambat. Dan selama pandemi, melihat reaksi dari beberapa penggemar yang diizinkan hadir di pertandingan dan para pemain itu sendiri, Wann melihat ada banyak tekanan.

"Anda akan melihat beberapa orang yang benar-benar kecewa. Pemandangan lapangan, mata mereka yang terbuka lebar selama time-out. Mereka mendengar hal-hal yang biasanya tidak mereka dengar," tutupnya.



Simak Video "Gaya Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Beri Penghormatan pada One Piece"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)