Misteri Gelombang Panas Mematikan di Benua Amerika, Ini Jawabannya

Misteri Gelombang Panas Mematikan di Benua Amerika, Ini Jawabannya

Fino Yurio Kristo - detikInet
Minggu, 11 Jul 2021 06:32 WIB
A child and her guardian walk across the street as they were silhouetted in the late afternoon sunlight Monday, Oct. 5, 2020, in Yokohama,Japan. (AP Photo/Kiichiro Sato)
Foto: AP/Kiichiro Sato
Jakarta -

Gelombang panas ekstrem melanda sebagian Amerika Serikat dan Kanada, menyebabkan ratusan korban meninggal dunia. Fenomena tersebut menurut ilmuwan merupakan pertanda jelas bahwa perubahan iklim adalah persoalan nyata.

Seperti dikutip detikINET dari BBC, Minggu (11/7/2021) gelombang panas mematikan seperti itu adalah peristiwa yang biasanya terjadi sekali dalam seribu tahun. Akan tetapi fenomena ini akan semakin umum seiring peningkatan suhu dunia akibat perubahan iklim.

Kesimpulan itu diambil dalam penelitian terbaru oleh 27 peneliti internasional yang merupakan bagian dari World Weather Attribution.

Andai manusia tidak mempengaruhi iklim sampai sejauh ini, maka peristiwa gelombang panas ekstrem 150 kali cenderung tidak akan terjadi. Namun pemanasan global makin mencemaskan, misalnya masih diandalkannya bahan bakar berbasis fosil.

Gelombang panas di Kanada memang mengejutkan karena naik lebih dari 4 derajat Celcius. Rekor suhu tertinggi Kanada sebelumnya 45 derajat Celcius. Nah beberapa hari lalu, Desa Lytton di British Columbia mencatat rekor baru dengan suhu 49,6 derajat Celcius.

Di Negara Bagian Oregon dan Washington, Amerika Serikat serta bagian barat Kanada, beberapa kota tembus suhu jauh di atas 40 derajat. Ratusan orang dilaporkan meninggal karenanya dan jumlah pasien di rumah sakit meningkat.

Penyebabnya adalah fenomena kubah panas. Kubah panas pada dasarnya adalah fenomena cuaca di mana kondisi tekanan tinggi atmosfer menjebak udara yang datang dari Samudra Pasifik, menciptakan ruang udara dan mengompresinya ke bawah, membuat suhu semakin panas.

"Ibaratnya ini adalah pompa sepeda. Jika Anda memompa udara ke ban sepeda, maka udaranya menjadi hangat," kata Philip Mote, profesor cuaca di Oregon State University yang dikutip detikINET dari AFP.

Kondisi tersebut juga mencegah terbentuknya awan, sehingga radiasi dari sinar Matahari leluasa memancar. "Kita pernah melihat fenomena semacam ini sebelumnya, tapi kali ini jauh lebih kuat," kata dia.



Simak Video "Ratusan Mobil Rusak Dihantam Hujan Es di Italia"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)