Setelah China dan Korea, India Mau Bikin Matahari Buatan Juga?

Setelah China dan Korea, India Mau Bikin Matahari Buatan Juga?

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 11 Jun 2021 17:09 WIB
Matahari buatan China
Setelah China dan Korea, India Mau Bikin Matahari Buatan Juga? Foto: Dok. Xinhua/Zhang Chaoqun
Jakarta -

Keberhasilan China mengembangkan reaktor nuklir yang meniru fusi nuklir sedang menjadi sorotan dunia. Tak hanya China, Korea Selatan juga pun punya teknologi yang disebut Matahari buatan ini. Negara lain mungkin akan menyusul, India misalnya?

Seperti kebanyakan teknologi, fusi nuklir adalah penemuan pedang bermata dua. Di satu sisi, fusi nuklir dikhawatirkan menimbulkan kecelakaan yang tidak diinginkan.

Di lain sisi, jika digunakan dengan ramah, teknologi ini menawarkan beberapa keuntungan. Hanya diperlukan setengah kilogram bahan bakar fusi untuk menghasilkan jumlah energi yang sama dengan empat juta kilogram bahan bakar fosil.

Fusi nuklir juga tidak meninggalkan limbah radioaktif tinggi seperti yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional dan dengan demikian, Matahari buatan dianggap sebagai masa depan energi bersih.

Perjalanan fusi nuklir

Pengembangan kekuatan fusi tak semudah teorinya. Harapan awal para peneliti di tahun 1950-an pupus oleh banyaknya masalah teknis yang terlibat, untuk mengendalikan perilaku kompleks plasma yang berisi inti atom agar menyatu dan dan mempertahankan suhu di atas 100 juta derajat celcius.

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan bekerja keras untuk mencapai hal ini dengan reaktor khusus yang disebut tokamak, yaitu sebuah ruangan berbentuk seperti donat dengan cincin magnet raksasa menahan plasma super panas dan memutar partikel bermuatan sehingga mereka menyatu pada suhu yang sangat tinggi.

Semakin besar tokamak, semakin baik insulasi yang disediakan untuk menahan partikel fusi untuk waktu yang lebih lama, dan lebih banyak energi yang dihasilkan.

Namun bahkan dengan teknologi terbaru, tidak mungkin mempertahankan suhu tinggi dalam waktu yang cukup lama untuk memicu reaksi fusi. Karena itulah, pencapaian Eksperimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST), Matahari buatan China yang berhasil mencapai suhu 160 juta derajat celcius selama 20 detik adalah sebuah terobosan.

Reaktor fusi terbesar

Untuk mewujudkan potensi energi fusi secara global, dunia akan banyak bergantung pada International Thermonuclear Experimental Reactor (ITER) yang dibangun di Prancis selatan. Teknologi ini diharapkan menjadi reaktor fusi terbesar di dunia ketika mulai beroperasi pada tahun 2035.

Banyak kritikus berpendapat bahwa reaktor tersebut hanya demonstrasi teknologi. Bagaimanapun, setelah Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS), ITER adalah proyek terbesar manusia yang melibatkan kolaborasi berskala internasional. Di dalamnya termasuk ada AS, Rusia, Korea Selatan, Jepang, China, India, dan Uni Eropa.

India mungkin bikin Matahari sendiri

Dikutip dari Deccan Herald, India bisa menjadi kuda hitam dalam perkembangan teknologi reaktor fusi, karena memiliki peran utama di ITER. Para ilmuwan dari Institute of Plasma Research di Ahmedabad, sedang memandu produksi industri komponen penting ITER seperti pelindung dinding, sistem air pendingin, dan kriogenik. Bahkan, suprastruktur untuk peralatan utama reaktor, di mana vakum dipertahankan untuk membantu mendinginkan plasma, dibuat oleh perusahaan Larsen & Toubro asal India.

Sejak membangun tokamak pertamanya yang diberi nama Aditya pada 1980-an, India telah membuat kemajuan luar biasa dalam penelitian fusi dan mengoperasikan Steady State Superconducting Tokamak (SST) canggih yang mengatasi sifat 'on-off' dari tokamak konvensional dalam memanaskan plasma.

Hanya beberapa negara yang telah mengembangkan SST generasi berikutnya ini. EAST buatan China misalnya, adalah tokamak yang dirancang untuk operasi kondisi mapan. Untuk diketahui, para engineer China yang membangun Matahari buatan tersebut, semua "diasuh" oleh program ITER.

Dengan modal tersebut, bukan tidak mungkin India akan terpacu membuat Matahari buatan sendiri. Mereka harus menggunakan partisipasinya di ITER untuk membuka langkah berikutnya dalam membangun reaktor fusi di tanah India dalam beberapa dekade mendatang.



Simak Video "Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Iran Tiba-tiba Ditutup, Ada Apa?"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)