China Kehabisan Stok Monyet untuk Percobaan Laboratorium

China Kehabisan Stok Monyet untuk Percobaan Laboratorium

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 24 Mei 2021 07:16 WIB
Monyet di Taman Nasional Bali Barat
Foto: Grandy/detikFOTO
Jakarta -

China harus menghadapi kekurangan monyet untuk kebutuhan percobaan laboratorium yang akut. Hal ini terjadi karena larangan impor dan meningkatnya permintaan dari para peneliti, membuat para ilmuwan berebut untuk menemukan hewan yang harganya terjangkau untuk melanjutkan studi mereka.

Pasokan monyet lab yang menyusut, yang banyak digunakan dalam pengujian dan penelitian obat-obatan dan vaksin, telah mendorong harga mereka di China naik empat kali lipat dalam dua tahun.

Zhang Wen, pemilik Jiangsu Johnsen Bioresource Co., sebuah perusahaan pengembangbiakan monyet di China timur mengatakan, ratusan monyet lab dewasa yang dapat ia hasilkan dalam setahun semuanya telah dipesan oleh lembaga penelitian bahkan sebelum hewan tersebut lahir. Karenanya, dia terpaksa menolak banyak pembeli lainnya.

Penyebab utama dari kekurangan itu adalah larangan Beijing terhadap perdagangan satwa liar di luar negeri, yang diberlakukan pada Januari 2020 sebagai bagian dari tindakan keras terhadap bisnis satwa liar yang oleh beberapa ilmuwan dikaitkan dengan pandemi. Di bawah larangan tersebut, impor dan ekspor monyet lab juga dihentikan.

Dikutip dari Vice World News, larangan tersebut menghancurkan pasokan monyet laboratorium China sendiri, karena sebagian besar spesies primata yang cocok untuk penelitian, seperti monyet cynomolgus, berasal dari Asia Tenggara.

Lonjakan permintaan telah menarik banyak investasi di industri tersebut. Tetapi peternak tidak dapat meningkatkan produksi mereka secara drastis dengan terbatasnya jumlah monyet di China.

"Hewan memiliki siklus hidupnya sendiri. Mereka tidak seperti barang-barang industri: selama Anda beralih ke persneling yang tinggi, Anda dapat menghasilkan produk," kata Zhang.

China dulunya adalah eksportir utama monyet lab ke Amerika Serikat. Pada tahun fiskal 2019, laboratorium di AS menggunakan sekitar 68.000 primata non-manusia dan total sekitar 800.000 hewan untuk penelitian.

Setelah China menghentikan ekspor hewannya awal tahun lalu, para peneliti di AS mengeluhkan kekurangan monyet yang menghambat penelitian tentang COVID-19.

Tetapi Zhang, yang biasa mengekspor beberapa ribu monyet setiap tahun, mengatakan larangan ekspor China saja tidak bisa disalahkan atas kurangnya pasokan monyet di AS. Dengan berkembangnya penelitian farmasi di China, peternak lokal hampir tidak dapat memenuhi permintaan di dalam negeri bahkan sebelum pandemi.

Jumlah monyet laboratorium yang digunakan di negara itu meningkat dari sekitar 8.000 pada 2013 menjadi sekitar 30.000 pada 2019, mengutip data China Laboratory Primate Breeding and Development Association. Sedangkan untuk data tahun 2020, belum tersedia.

Monyet merupakan subjek yang disukai dalam mempelajari penyakit atau obat-obatan manusia karena kemiripannya dengan manusia. Mereka digunakan dalam pengembangan produk yang paling biologis, yang terbuat dari mikroorganisme hidup, dan 20-30% dari obat sintetik.

Selama pandemi COVID-19, para ilmuwan juga telah menginfeksi monyet dengan virus Corona untuk mempelajari efek virus pada organ dan sistem kekebalan mereka. Monyet juga banyak digunakan dalam pengembangan vaksin, meskipun tidak jelas berapa banyak hewan yang terlibat.



Simak Video "China Desak AS Kembali dalam Kesepakatan Nuklir 2015"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)