Mereka Disebut Biang Kerok Lonjakan Plastik Sekali Pakai di Dunia

Mereka Disebut Biang Kerok Lonjakan Plastik Sekali Pakai di Dunia

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 20 Mei 2021 21:42 WIB
SEOUL, SOUTH KOREA - FEBRUARY 16: Crushed plastic bags and bottles are stacked at a facility that stores recyclable materials following the Lunar New Years holiday on February 16, 2021 in Seoul, South Korea. South Korea was already one of the worlds biggest plastic consuming countries per capita before the pandemic with people on average using 11.5 kilograms of plastic each year. As more people stuck amid coronavirus pandemic at home started relying on online shopping and delivery food, as well as opting for single-use goods, due to worries over infection, plastic waste has been piling up at an alarming rate. (Photo by Chung Sung-Jun/Getty Images)
Foto: Getty Images/Chung Sung-Jun
Jakarta -

Sebuah laporan terbaru menunjukkan, sejumlah perusahaan besar dan bank berada di belakang produksi dan pembiayaan sebagian besar plastik sekali pakai di dunia.

Penelitian yang dilakukan oleh Minderoo, organisasi nirlaba asal Australia yang mengadvokasi lautan yang lebih bersih, bersama dengan para akademisi di University of Oxford dan Stockholm Environment Institute ini mengungkapkan ada 130 juta ton sampah plastik dihasilkan dalam setahun.

Laporan ini memberikan petunjuk baru tentang siapa yang berkontribusi paling besar memproduksi semua plastik sekali pakai ini, dan siapa yang menghasilkan uang darinya.

Para produsen plastik

Menurut laporan tersebut, seperti dikutip dari New York Times, setengah dari plastik sekali pakai di dunia dibuat oleh 20 perusahaan besar. Dua perusahaan AS, Exxon Mobil dan Dow, memimpin dalam hal ini, diikuti oleh raksasa petrokimia milik China Sinopec, dan Indorama Ventures yang berbasis di Bangkok.

Plastik sekali pakai telah menjadi bisnis yang sangat menggiurkan. Bisnis ini diproyeksikan akan terus berlanjut. Dalam lima tahun ke depan saja, kapasitas produksi diperkirakan tumbuh 30%.

Para investor

Minderoo juga menyebutkan beberapa nama terkenal di bidang keuangan sebagai pihak yang terlibat berinvestasi dalam pembuatan plastik sekali pakai. Nama-nama tersebut antara lain perusahaan yang mengendalikan reksa dana dan rekening tabungan pensiun, termasuk Vanguard dan BlackRock, dan produksinya dibiayai oleh bank-bank terbesar di dunia, termasuk Barclays dan JPMorgan Chase.

Dibantah

Menanggapi penelitian ini, American Chemistry Council mewakili industri plastik, menyebut laporan Minderoo menyesatkan. American Chemistry Council mengatakan Minderoo gagal mengakui penelitian industri yang menunjukkan bahwa mengganti kemasan plastik dengan bahan lain dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Lembaga tersebut balik menuding dengan menyoroti posisi Minderoo Foundation yang didanai oleh saham pendirinya di sebuah perusahaan yang menambang bijih besi. Dikatakan American Chemistry, industri pertambangan lebih parah menuai kritik karena dampaknya terhadap lingkungan.

Pemerintah juga merupakan pemangku kepentingan besar dalam industri ini. Sekitar 40% pembuat plastik sekali pakai terbesar sebagian dimiliki oleh pemerintah, termasuk China dan Arab Saudi.

Sementara itu, Exxon Mobil menanggapinya dengan mengatakan bahwa berbagi kepedulian tentang sampah plastik adalah hal penting. Mereka setuju bahwa sampah plastik harus ditangani.

"Kami meningkatkan keefektifan daur ulang dan mendukung perbaikan dalam pemulihan sampah plastik," ujarnya.

Banyak solusi lama yang diusulkan untuk masalah plastik tidak berhasil dengan baik. Hanya sekitar 8% plastik yang didaur ulang di Amerika Serikat, dan upaya advokasi untuk membujuk konsumen agar menggunakan lebih sedikit plastik tampaknya gagal.



Simak Video "Unilever Indonesia Dorong Peran Aktif Masyarakat untuk Restorasi Ekosistem Melalui #GenerasiPilahPlastik"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)