Indonesia Kena Gelombang Panas? Ini Penjelasan BMKG

Indonesia Kena Gelombang Panas? Ini Penjelasan BMKG

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 19 Mei 2021 17:39 WIB
Musim Gelombang Panas Kembali Melanda Australia
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Cuaca panas dalam beberapa hari terakhir di sebagian wilayah Indonesia memunculkan berita simpang siur tentang gelombang panas yang meresahkan masyarakat. Apakah benar Indonesia terkena gelombang panas?

Melalui websitenya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terlebih dahulu memberikan penjelasan tentang apa itu gelombang panas. Disebutkan BMKG, menurut WMO (World Meteorological Organization), gelombang panas atau dikenal dengan heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut.

"Saat terjadi gelombang panas, suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C atau lebih. Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

Secara dinamika atmosfer, hal tersebut dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap di suatu wilayah disebabkan adanya anomali dinamika atmosfer yang mengakibatkan aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas, seperti misalnya ada sistem tekanan tinggi dalam skala yang luas dan terjadi cukup lama.

Disebutkan Guswanto, secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi. Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.

"Dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan gelombang panas atau heatwave," papar Guswanto.

Adapun yang terjadi di wilayah Indonesia adalah kondisi suhu panas harian yang umumnya disebabkan oleh kondisi cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu Matahari berada di sekitar ekuatorial.

"Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum tanggal 16 Mei 2021 tercatat berkisar antara 33,0-35,2 °C dengan suhu maksimum 35,2 °C terjadi di Surabaya. Kondisi suhu maksimum dengan kisaran tersebut masih berada kondisi normal, di mana perubahan suhu maksimum harian masih dapat terjadi dalam skala waktu harian bergantung pada kondisi cuaca atau tingkat perawanan di suatu wilayah," jelasnya.

Guswanto menambahkan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau di mana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari, sehingga masyarakat diimbau dan diharapkan tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas atau kondisi terik pada siang hari dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan diri, keluarga, serta lingkungan.



Simak Video "BMKG: Fenomena Cuaca Gelombang Panas Tak Terjadi di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)