Musim Mudik, Jangan Buat Indonesia Jadi India Kedua! - Halaman 2

Kolom Telematika

Musim Mudik, Jangan Buat Indonesia Jadi India Kedua!

Fadel Narania Rahman, David Petra, Budi Sulistyo dan Dimitri Mahayana - detikInet
Senin, 17 Mei 2021 11:46 WIB
Poster
Ilustrasi mudik Lebaran (Foto: Edi Wahyono/detikcom)

Apabila program vaksinasi tersebut tidak diiringi pemberlakuan protokol kesehatan, maka dampak yang mungkin terjadi khususnya dari perspektif sebaran kasus aktif di masa mendatang seperti tabel berikut:

Grafik Vaksinasi COVID-19 dan Prokes. Vaksinasi dengan prokes dan vaksinasi tanpa prokesGrafik simulasi COVID-19 jika vaksinasi dijalankan tanpa prokes. Foto: (dok Istimewa/Fadel Narania)

Grafik di atas adalah simulasi yang dijalankan apabila protokol kesehatan tidak dijalankan secara ketat selama proses vaksinasi dijalankan. Penulis mengasumsikan bahwa pelanggaran protokol kesehatan akan meningkatkan contact rate antara individu yang tergolong suspek dan terinfeksi. Dengan meningkatnya contact rate, sesuai dengan konsep model SIR yang berlaku, maka akan terjadi pula peningkatan pada reproduction number virus COVID-19 tersebut. Reproduction number sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan virus mereproduksi atau menyebarkan dirinya sendiri pada individu lain.

Kondisi pelanggaran protokol kesehatan ini direpresentasikan kurva berwarna merah pada grafik di atas. Perlu dicatat bahwa angka-angka hasil simulasi pada kurva berwarna merah tersebut bukanlah suatu prediksi namun lebih ke sebuah kondisi yang mungkin terjadi bila protokol kesehatan tidak dijalankan dengan baik walaupun vaksinasi dilaksanakan. Kondisi sebenarnya bisa berbeda --bahkan bisa lebih buruk-- ketimbang keadaan pada kurva berwarna merah tersebut.

Kurva berwarna merah memperlihatkan kenaikan kasus aktif yang terjadi secara cepat dan bahkan membentuk puncak pandemi baru. Bila dibandingkan laju penambahan kasus aktif pada kurva lainnya, pelanggaran protokol kesehatan tersebut belum terlihat adanya tren penurunan hingga Juli 2022! Hal ini tentunya dapat mengimplikasikan dampak yang cukup luas pada berbagai aspek, khususnya dari adanya kemungkinan ledakan jumlah kumulatif individu terinfeksi. Semakin tingginya total kasus terinfeksi, maka semakin banyak pula kebutuhan medis untuk menanggulanginya. Maka, tingginya dampak tersebut seakan-akan menyebabkan program vaksinasi tidak memiliki dampak apapun pada upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus COVID-19.

Kondisi yang digambarkan pada kurva kedua di atas serupa dengan kondisi aktual yang terjadi di India saat ini. India termasuk salah satu negara yang juga menerapkan program vaksinasi, namun masyarakatnya malah jadi kurang menerapkan protokol kesehatan yang benar. Sebagai dampaknya, saat ini India sedang menghadapi gelombang pandemi COVID-19 yang kedua dengan lonjakan kasus sangat signifikan. Lonjakan kasus begitu besar semata-mata terjadi karena lengahnya masyarakat akibat merasa vaksinasi telah dijalankan dan banyak mengabaikan protokol kesehatan hingga melangsungkan kegiatan keagamaan dan politik yang diikuti secara masif.

Berkaca kondisi aktual yang terjadi pada India serta melihat hasil simulasi yang telah dijalankan di atas, pemerintah dan masyarakat Indonesia harus terus memiliki kesadaran akan pentingnya mematuhi seluruh protokol kesehatan sekaligus mensukseskan program vaksinasi yang sudah dijalankan.

Kita tidak ingin Indonesia menghadapi kondisi serupa seperti India, yang mana terjadinya lonjakan kasus ketika protokol kesehatan diabaikan. Kita juga harus memahami bahwa momentum besar semacam Hari Raya Idul Fitri 1442 H berikut arus mudik-balik juga berpotensi menyebabkan pelanggaran protokol kesehatan. Oleh karena itu, semua pihak wajib untuk tetap menjaga protokol kesehatan dengan benar melalui mengikuti aturan yang dikeluarkan pemerintah serta memperluas program vaksinasi yang dijalankan. Jangan buat Indonesia menjadi India ke-dua!

* Fadel dan David adalah Mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB bidang penelitian tugas akhir Data Science. Dr Ir Budi Sulistyo, MT adalah Senior Data Scientist PT Sharing Vision Indonesia dan Dr Ir Dimitri Mahayana, M Eng adalah Dosen STEI ITB Kelompok Keahlian Kendali dan Komputer.



Simak Video "Menhub Setop Penerbangan Charter Selama Pelarangan Mudik"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fyk)