Kapan Lebaran 2021? Begini Cara Tentukan Idul Fitri Secara Ilmiah

Kapan Lebaran 2021? Begini Cara Tentukan Idul Fitri Secara Ilmiah

Aisyah Kamaliah - detikInet
Minggu, 09 Mei 2021 08:50 WIB
Petugas Masjid Al-Musyariin melihat posisi hilal (bulan sabit muda) menggunakan teropong untuk menentukan 1 Ramadhan 1441 H di Jakarta Barat, Kamis (23/4/2020). Berdasarkan pantauan hilal di beberapa daerah, Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadhan 1441 H jatuh pada Jumat (24/4/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
Kapan Lebaran 2021? Begini Cara Menentukan Idul Fitri Secara Sains. Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Kementerian Agama (Kemenag) baru akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1442 H pada 11 Mei 2021. Sidang isbat bertepatan saat 29 Ramadan 1442 H. Kalau secara sains, bagaimana menentukan Idul Fitri?

Sidang isbat selalu diawali dengan paparan mengenai posisi bulan sabit baru (hilal) berdasarkan data astronomi (falak). Untuk menentukan hilal, biasanya dilakukan dengan dua cara yakni rukyat dan hisab.

Rukyat adalah metode pemantauan hilal menggunakan pandangan mata. Adapun hisab ialah metode pemantauan hilal berdasarkan perhitungan matematik astronomi.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), untuk membedakan hilal yang asli dengan bulan biasa yakni dengan melihat bentuk bulan sabit awal berupa huruf U dengan posisi menghadap titik matahari. Sebaliknya, jika berupa huruf N atau dengan posisi miring, maka itu bukan hilal tetapi hanya berupa pandangan atau bentukan cahaya.

Hilal bisa dilihat setelah terjadinya konjungsi di arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam penanggalan kalender Islam.
Untuk kriteria penentuan awal bulan hijriah, LAPAN menekankan untuk memerhatikan faktor ketampakan atau visibilitas hilal yakni elongasi bulan menjadi 6,4 derajat dan tinggi bulan minimal 3 derajat.

LAPAN menggunakan waktu Indonesia Barat sebagai rujukan lantaran beda waktu antara Indonesia Barat dan wilayah paling Timur menyebabkan perbedaan tinggi hilal hingga 3 derajat, dilansir CNN Indonesia, Minggu (9/5/2021).

Ada juga kriteria lain yang diperhatikan untuk menentukan hilal salah satunya faktor cuaca. Dianjurkan melakukan pengamatan dari tempat tanpa penghalang (pohon atau gedung) arah pandang ke arah barat. Titik terbenamnya matahari akan menjadi acuan untuk melihat hilal karena posisinya tidak jauh dari titik tersebut.

Apabila hilal terlihat beberapa saat setelah magrib (qobla ghurub), maka petangnya akan ditetapkan sudah masuk 1 Syawal. Tapi jika perukyat tidak melihat hilal, maka petang ini dinyatakan sebagai malam 30 Ramadhan dan keesokan petangnya baru ditetapkan sebagai 1 Syawal.



Simak Video "Pantauan BMKG soal Potensi Terlihatnya Hilal"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)