Berapa Jumlah Minimum Orang yang Diperlukan untuk Selamat dari Kiamat?

Berapa Jumlah Minimum Orang yang Diperlukan untuk Selamat dari Kiamat?

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 09 Mei 2021 05:45 WIB
kiamat
Foto: via Brainberries
Jakarta -

Perang nuklir, hantaman asteroid, hingga bencana alam yang tidak bisa kita prediksi, sewaktu-waktu bisa menyebabkan kiamat yang mengakhiri kehidupan Bumi, termasuk manusia. Para ilmuwan mencoba memperkirakan, dengan asumsi ada beberapa yang selamat, berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk mempertahankan spesies kita?

Jawaban singkatnya adalah, tergantung. Bencana yang berbeda akan menciptakan kondisi hari kiamat yang berbeda pula untuk populasi manusia bertahan hidup. Namun hasil studi ini menyimpulkan populasi yang sangat kecil dapat menyelamatkan spesies kita.

Misalnya, perang nuklir dapat memicu musim dingin nuklir. Dampaknya, korban yang selamat akan menghadapi suhu musim panas yang beku dan kelaparan global, belum lagi terkena paparan radiasi.

Dengan mengesampingkan beberapa kondisi ini dan berfokus pada ukuran populasi, jumlah minimum orang yang tersisa kemungkinan besar sangat kecil dibandingkan dengan sekitar 7,8 miliar populasi manusia yang hidup saat ini.

"Dengan populasi di bawah ratusan, Anda mungkin bisa bertahan selama berabad-abad. Dan banyak populasi kecil semacam itu bertahan selama berabad-abad dan mungkin ribuan tahun," kata Cameron Smith, asisten profesor di Department of Anthropology, Portland State University, Oregon, AS, dikutip dari Live Science.

Penelitian Smith tentang peradaban manusia purba dan kolonisasi luar angkasa memberinya wawasan yang cukup bagus tentang hal ini. Dia memperkirakan kota-kota besar akan menjadi yang paling rentan jika peradaban global runtuh. Pasalnya, wilayah ini mengimpor hampir semua makanan dan sangat bergantung pada listrik. Oleh karena itu, populasi yang bertahan hidup kemungkinan besar akan menyebar untuk mencari sumber daya.

Selama periode Neolitik awal sekitar 12.000 tahun yang lalu ketika manusia mulai bertani, ada banyak desa kecil di seluruh dunia dengan populasi mulai dari ratusan hingga sekitar 1.000 individu.

"Itu adalah populasi yang cukup mandiri, tapi saya curiga mereka juga memiliki hubungan perkawinan dengan penduduk dari desa lain. Dan dalam skenario apokaliptik, saya membayangkan hal yang sama akan terjadi," ujarnya.

Populasi yang bertahan hanya beberapa ratus orang, akan membutuhkan pernikahan agar tidak punah. Perkawinan sedarah, atau perkawinan antara individu yang berkerabat dekat, merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi populasi kecil.

Salah satu contoh dari konsekuensi perkawinan sedarah ditunjukkan dengan jatuhnya Dinasti Habsburg Spanyol yang memerintah selama abad ke-16 dan ke-17. Dinasti tersebut berupaya mempertahankan pernikahan dalam keluarga hingga tahun 1700.

Garis keturunan kemudian berakhir saat Raja Charles II diketahui tak subur. Kendati demikian, manusia berpotensi mempersiapkan populasi untuk selamat dari kiamat dengan melakukan pencegahan potensi bencana.

"Jika bencana akan terjadi, kita ingin memiliki beberapa perlindungan ini, sehingga setidaknya beberapa populasi dapat melanjutkan, dan beberapa ukuran peradaban manusia dapat berlanjut," kata Seth Baum, salah satu pendiri dan direktur eksekutif Global Catastrophic Risk Institute.

Faktor penting dalam perlindungan apa pun adalah kemampuan untuk mengisolasi kelompok dari apa pun yang menyebabkan kerugian, menurut Baum. Misalnya, negara-negara kepulauan tertentu, seperti Selandia Baru dan Australia, telah secara efektif mengubah diri mereka menjadi tempat perlindungan berskala besar selama pandemi virus Corona dengan mencegah sebagian besar virus keluar.

"Satu langkah maju adalah membuat perlindungan bencana khusus di suatu tempat di Bumi," kata Baum.

Dia membandingkan perlindungan hipotetis ini dengan Gudang Benih Global di Svalbard, Norwegia, yang menyimpan cadangan benih dunia dengan aman di dalam gunung. "Dan kemudian, menjadi lebih ambisius dari itu, kita akan berupaya memiliki sesuatu (untuk manusia) yang tidak ada di planet ini," sebutnya.



Simak Video "NASA Rencanakan Misi Baru ke Planet Venus"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)