Mengapa Masih Ada yang Percaya COVID-19 adalah Konspirasi?

Mengapa Masih Ada yang Percaya COVID-19 adalah Konspirasi?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 04 Mei 2021 16:49 WIB
A asian man remove the N95 mask from his face
Ilustrasi orang ogah pakai masker. Foto: Getty Images/iStockphoto/rukawajung
Jakarta -

Sudah begitu banyak bukti, masih ada saja yang percaya COVID-19 adalah konspirasi. Tak cuma satu dua orang, kejadian di Indonesia soal pelanggaran kepatuhan menjalankan protokol kesehatan saja masih banyak. Contoh kasus viral adalah pria yang membodohkan pengunjung mal bermasker di Surabaya dan jemaah di Bekasi yang dilarang bermasker saat ingin shalat di masjid.

Apa alasannya? detikINET telah merangkum beberapa pertanyaan seputar teori konspirasi dari RTE yang ditulis oleh Dr Joanne McVeigh dosen di Department of Psychology and the ALL (Assisting Living & Learning) Institute di Maynooth University dan Prof Malcolm MacLachlan Professor of Psychology and Social Inclusion.

Bagaimana bisa orang percaya teori konspirasi?

Dari sekian banyak informasi ilmiah yang ada, sebagian orang memilih untuk berinteraksi dengan informasi berbasis konspirasi. Ini dikarenakan mereka mengalami bias konfirmasi atau 'bias diri sendiri', di mana orang mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka dan mengabaikan bukti yang bertentangan dengan keyakinan mereka. Bukti menunjukkan, individu yang percaya pada teori konspirasi tertentu mengenai fenomena seperti pandemi juga cenderung percaya pada teori konspirasi lain dalam konteks yang tidak terkait.

Sebagai pembelajaran di masa depan, penelitian menunjukkan bahwa argumen faktual yang menentang teori konspirasi dapat efektif dalam mengurangi kepercayaan konspirasi, tetapi hanya sebelum orang tersebut kekeuh terhadap teori konspirasi tersebut. Oleh karena itu, informasi ilmiah harus tepat waktu sehingga dapat mencegah orang terjerat pada konspirasi.

Siapa yang lebih sering percaya teori konspirasi?

Dalam sebuah studi baru-baru ini tentang faktor penentu kepercayaan konspirasi yang berkaitan dengan COVID-19, mereka di bawah ini lebih rentan termakan konspirasi:

  • Individu yang berusia muda
  • Mereka yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah
  • Individu yang kurang melek huruf

Mereka yang hidup dalam kemiskinan juga lebih cenderung mempercayai teori konspirasi. Pengalaman perubahan sosial dan kondisi sosial seperti pengangguran juga dapat mendorong perasaan takut dan tidak aman, yang menghasilkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada teori konspirasi.

Mengapa teori konspirasi 'masuk akal' bagi sebagian orang?

Penelitian menunjukkan orang yang dikucilkan juga terkait dengan kepercayaan pada teori konspirasi dan kepercayaan takhayul. Misalnya, mereka dengan status sosial yang lebih rendah terkait dengan etnis atau pendapatan lebih cenderung mendukung teori konspirasi.

Mengapa demikian? Salah satu alasannya mungkin ketidakpercayaan di antara kelompok-kelompok lembaga, kebijakan, dan sistem yang terdiskriminasi yang telah menimbulkan diskriminasi pada mereka.

Pengalaman diskriminasi di antara komunitas ras dan etnis minoritas dapat menyebabkan ketidakpercayaan dan oleh karena itu anggota kelompok tersebut mungkin lebih berhati-hati tentang informasi kesehatan masyarakat, kurang mau mengikuti nasihat keselamatan, dan bahkan lebih rentan untuk dibujuk oleh informasi yang salah. Perasaan tidak berdaya, tidak penting dalam masyarakat dan ketidakmampuan untuk membawa perubahan karena itu terkait dengan tingkat kepercayaan teori konspirasi yang lebih tinggi.



Simak Video "Menag Khawatir Maraknya Penyebaran Hoax Berkedok Dakwah"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)