Hand Sanitizer Diduga Picu Peningkatan Virus Gastroenteritis

Hand Sanitizer Diduga Picu Peningkatan Virus Gastroenteritis

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 28 Apr 2021 17:19 WIB
Hand Sanitizer
Hand Sanitizer Picu Peningkatan Virus Gastroenteritis. Foto: iStock
Jakarta -

Sejumlah negara melaporkan peningkatan virus gastroenteritis selama beberapa bulan terakhir. Para ahli memperkirakan, penggunaan hand sanitizer yang kurang efektif menghalau patogen seperti norovirus, mungkin ikut berperan dalam peningkatan virus gastroenteritis.

Data baru yang dirilis otoritas kesehatan di negara bagian Victoria, Australia, melaporkan peningkatan wabah gastroenteritis sebesar empat kali lipat di seluruh fasilitas penitipan anak dalam beberapa bulan pertama di tahun 2021.

Peningkatan ini sangat signifikan dibandingkan dengan rata-rata selama lima tahun. Negara lain seperti Selandia Baru dan Taiwan juga melaporkan lonjakan wabah norovirus selama beberapa bulan terakhir.

Dikutip dari New Atlas, Rabu (28/4/2021) gastroenteritis biasanya disebabkan virus yang disebut norovirus. Virus ini diketahui menyebar dengan menyentuh mulut setelah bersentuhan dengan permukaan atau orang yang terkontaminasi.

Para orang tua yang anak-anaknya masih kecil akrab dengan penyakit ini karena virus tersebut sering disebarkan oleh anak-anak, dan fasilitas penitipan anak terkenal sebagai sarang kelompok infeksi.

"Norovirus menyebabkan muntah dan diare. Kasus terjadi sepanjang tahun, tetapi memuncak selama musim dingin mungkin karena saat itulah kita cenderung melakukan kontak lebih dekat di dalam ruangan sehingga virus mudah menyebar," kata Chair of Food Safety Information Council Australia Cathy Moir.

"Wabah norovirus juga umum terjadi saat orang berada di ruang keluarga yang dekat, seperti fasilitas perawatan lansia dan anak, rumah sakit, kapal pesiar, dan acara olahraga komunitas," sambungnya.

Alasan mengapa kelompok norovirus meningkat signifikan memang belum jelas. Namun beberapa ahli menduga, meningkatnya penggunaan hand sanitizer kemungkinan berperan.

Sejak pandemi COVID-19 terjadi awal tahun 2020, lebih banyak orang sering menggunakan pembersih tangan. Beberapa data menyebutkan, permintaan produk hand sanitizer tumbuh 16 kali lipat dalam beberapa bulan pertama pandemi.

"Saya curiga banyak dari kita menjadi cukup puas mencuci tangan hanya dengan menggunakan hand sanitizer. Meskipun pembersih tangan nyaman digunakan kapan saja dan di mana saja, produk ini tidak bekerja dengan baik melawan norovirus seperti halnya mencuci tangan secara menyeluruh (menggunakan air dan sabun)," kata ahli gastroenterologi Vincent Ho.

Sebenarnya, para peneliti telah lama memperkirakan bahwa pembersih tangan berbasis alkohol mungkin tidak seefektif sabun dan air dalam menghilangkan norovirus.

Sebuah survei yang menarik tahun 2011 terhadap 161 fasilitas perawatan jangka panjang di Amerika Serikat menemukan bahwa fasilitas yang lebih sering menggunakan sabun dan air, lebih jarang mengalami wabah norovirus ketimbang yang mengandalkan hand sanitizer.

Peter Collignon, spesialis penyakit menular dari Australian National University, menyebutkan bahwa hand sanitizer tidak menghilangkan kontaminan dari tangan yang kotor. Dia merekomendasikan agar orang tidak mengganti mencuci tangan secara menyeluruh dengan hand sanitizer. Mencuci tangan tetap lebih penting dari pada memakai hand sanitizer.

"Seperti semua desinfektan, pembersihan pertama adalah penting. Kita tidak bisa begitu saja mencelupkan sesuatu ke dalam larutan ajaib seperti hand sanitizer dan membuatnya steril. Bersihkan dulu (menggunakan air dan sabun), lalu sterilkan (menggunakan hand sanitizer). Jadi mencuci tangan itu penting," sebutnya.



Simak Video "18 Hand Sanitizer Mengandung Zat Kimia Tinggi Ditarik Singapura"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)