5 Risiko Bahaya Kecerdasan Buatan

Ancaman AI

5 Risiko Bahaya Kecerdasan Buatan

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Sabtu, 24 Apr 2021 19:11 WIB
Ilustrasi AI
Foto: Istimewa
Jakarta -

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) digadang-gadang akan menjadi teknologi kunci di masa depan. Namun, banyak yang menganggap ada bahaya yang tersimpan dari teknologi ini.

Salah satunya bos Tesla dan SpaceX Elon Musk, yang menganggap AI lebih bahaya ketimbang nuklir. Ia mengaku mengeluarkan pernyataan itu karena sangat dekat dengan pengembangan teknologi AI.

"Saya sangat dekat dengan teknologi AI yang canggih, dan ini sangat membuat saya takut. Teknologi ini sangat jauh dari yang diketahui banyak orang, juga tingkat perkembangannya yang eksponensial," ujar Musk.

Jadi, apa saja sih bahaya yang muncul dari kecerdasan buatan? Berikut adalah daftarnya, seperti dikutip detikINET dari Builtin, Sabtu (24/4/2021)

1. Pengangguran meningkat

Ini adalah bahaya yang banyak menjadi perhatian orang. Yaitu munculnya pengangguran akibat lapangan pekerjaan yang diisi oleh kecerdasan buatan, atau tepatnya otomatisasi.

Berdasarkan penelitian Brookings Institution 2019, ada 36 juta orang yang pekerjaannya rawan digantikan oleh otomatisasi. Lalu setidaknya ada 70% dari pekerjaan mereka, dari mulai penjualan, analisis pasar, sampai pekerjaan di gudang, bisa dilakukan oleh AI.

Meskipun AI juga disebut bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru, John C. Havens berpendapat kalau lapangan pekerjaan yang diciptakan tak bisa menutup lapangan pekerjaan yang dihilangkan oleh AI. Setidaknya begitulah pemikiran dari penulis buku Heartificial Intelligence: Embracing Humanity and Maximizing Machines.

Menurut Havens, ia pernah mewawancarai seorang bos dari perusahaan konsultan hukum soal machine learning. Saat itu ia ingin mempekerjakan lebih banyak orang, namun ia juga diwajibkan untuk mencapai hasil tertentu oleh pemegang sahamnya.

Sampai ia akhirnya menemukan sebuah software bernilai USD 200 ribu yang bisa menggantikan posisi 10 orang, dengan gaji masing-masing USD 100 ribu. Artinya dengan menggunakan software itu ia bisa menghemat USD 800 ribu.

Tak cuma itu, tingkat produktivitas dengan software itu meningkat 70%, dengan tingkat kesalahan hanya 5%. Dari sisi pemegang saham, hal itu tentu sangat menguntungkan.

Halaman selanjutnya: pelanggaran privasi dan picu kesenjangan sosial...