Analisis Banjir Bandang NTT dari Antariksa

Analisis Banjir Bandang NTT dari Antariksa

Agus Tri Haryanto - detikInet
Jumat, 09 Apr 2021 09:45 WIB
Warga melewati tumpukan kayu-kayu yang menyumbat dan merusak salah satu jembatan penghubung antardesa di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/4/2021). Menurut Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), banjir bandang dan tanah longsor yang melanda di sejumlah wilayah di NTT dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp.
Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA
Jakarta -

Banjir bandang menerjang wilayah Flores Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bencana tersebut kemudian dianalisis oleh Tim Tanggap Darurat Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dari antariksa.

Analisis tersebut dilakukan dengan memanfaatkan data citra satelit Pleiades pada 23 April 2020 untuk mendeteksi wilayah potensi terdampak bencana banjir pada Minggu (4/4/2021).

Hasil yang didapatkan dari analisis via antariksa ini, menunjukkan Desa Nelelamadika, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, yang terletak di kaki Gunung Api Ile Boleng dengan ketinggian antara 140-300 mdpl.

"Desa Nelelamadika beriklim tropis dengan rata-rata kemarau yang panjang, sehingga vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut sangat jarang," kata Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh (Pusfatja) Lapan di akun Twitter mereka.




Di Desa Nelelamadika itu sendiri ada alur sungai yang melewati desa tersebut. Akan tetapi jarang terdapat aliran air di sana, mengingat daerah tersebut memiliki kemarau yang panjang.

"Di sekitar alur sungai juga teramati banyak pemukiman penduduk, sehingga berpotensi terdampak luapan banjir apabila terjadi cura hujan yang sangat tinggi (daerah yang diberi lingkaran putus-putus berwarna merah)," kata Lapan.

Selain itu, lokasi Desa Nelelamadika pada lereng gunung yang terjang/curam dengan sedikitnya vegetasi di daerah tersebut. Hal itu yang dikatakan Lapan berpotensi terjadinya bencana longsor.

Kepala BNPB Doni Monardo memberikan update terkait penanganan bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTT). Doni menyebut hingga saat ini korban meninggal ada 165 dan 45 hilang.

Doni membeberkan data korban yang ditemukan meninggal hingga hari ini. Di Pulau Adonara ada 71 orang yang telah ditemukan meninggal dan 5 masih hilang.

"Berikutnya Kabupaten Lembata 43 orang (meninggal), 25 hilang," kata Doni, Kamis (9/4).

Untuk Alor, sebanyak 27 meninggal dan 14 hilang. Kemudian Malaka 6 meninggal dan Kabupaten Kupang 3 meninggal serta 1 orang masih hilang.

"Sedangkan Kota Kupang 6 meninggal, Kabupaten Sika 1 meninggal, Kabupaten Saburaijua 2 meninggal, Kabupaten Rote Ndao 2 meninggal, Kabupaten Ngada dan Ende masing-masing 1 orang meninggal," ucapnya.

Sementara itu, untuk korban bencana alam di NTB, ada 2 yang ditemukan meninggal. Jadi total ada 210 korban yang terdampak bencana alam tersebut.

"Sehingga secara keseluruhan untuk NTT korban meninggal sebanyak 163 orang dan 45 hilang. Sedangkan NTB 2. Jadi total seluruhnya mencapai 210 orang, NTT 208, NTB 2. Namun untuk yang meninggal di NTT saja 163," pungkasnya.



Simak Video "Kemkominfo Siapkan Telepon Satelit Untuk Penanganan Bencana NTT"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)