Ilmuwan Kritik Keterbatasan Akses Data Mutasi Virus Corona

Ilmuwan Kritik Keterbatasan Akses Data Mutasi Virus Corona

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 13 Mar 2021 20:41 WIB
Jika Mutasi Virus Corona Makin Ganas, Vaksin Covid-19 Perlu Direvisi
Ilmuwan Kritik Keterbatasan Akses Data Mutasi Virus Corona. Foto: DW (News)
Jakarta -

Para peneliti di seluruh dunia bekerja keras mengurutkan genom dari berbagai strain virus Corona baru dan membagikan data sekuens tersebut pada database publik, salah satunya adalah Global Initiative for Sharing Avian Influenza Data (GISAID).

Basis data ini memungkinkan para ilmuwan melacak dengan lebih baik bagaimana virus berubah. Misalnya, menurut GISAID, sebagian besar infeksi dengan varian virus B117 telah terjadi di Inggris, Denmark, Belgia, AS, dan Prancis.

"Ilmuwan dapat menggunakan data di GISAID setelah mengonfirmasi identitas mereka. Namun, organisasi ini tidak mengizinkan studi ilmiah apa pun yang berdasarkan data GISAID dipublikasikan secara publik," kata Emily Alger, penulis sains untuk The Boar, dikutip dari The Wire, Sabtu (13/3/2021).

Akibatnya, makalah ilmiah dari studi tersebut bahkan tidak dapat ditinjau oleh rekan sesama ilmuwan. Mereka juga tidak dapat mempublikasikan ulang data genom database tanpa izin penyedia data asli.

Pembatasan ini memicu kritikan dari para ilmuwan yang bekerja untuk mengurutkan virus Corona. Mereka menyuarakan keprihatinan tentang siapa yang mendapatkan dan tidak mendapatkan akses ke data GISAID, gangguan akses yang tidak dapat dijelaskan, dan ancaman tindakan hukum karena melanggar kebijakan pembagian ulang.

"Saya sedang mencari data langsung untuk website saya yang akan menginformasikan kepada publik tentang evolusi varian di Kanada dan di seluruh dunia. Persyaratan aplikasi yang berat membuat saya meninggalkan GISAID," kata Finlay Maguire, seorang ahli epidemiologi genom di Dalhousie University.

GISAID berbasis di Jerman dan didukung oleh donor swasta, pemerintah, dan organisasi nirlaba. Organisasi ini memiliki lebih dari 700.000 genom dari lebih 160 negara. Angka tersebut merupakan database terbesar dari jenisnya untuk virus Corona baru.

"Setiap individu yang mendaftar GISAID dan menyetujui persyaratan penggunaannya akan diberikan kredensial akses. Terkadang, GISAID merasa perlu untuk menangguhkan sementara kredensial akses untuk melindungi mekanisme pembagiannya," kata GISAID merespons kritikan ini.

Sementara itu, WHO telah merekomendasikan agar semua negara melakukan lebih banyak upaya untuk mengurutkan genom virus Corona baru dan membagikan datanya kepada publik.

Sejauh ini, hanya National Institute of Virology, Pune, yang telah mengurutkan genom virus di India, dan menurut laporan Priyanka Pulla untuk The Wire Science, negara tersebut lambat untuk mempublikasikan hasilnya di GISAID.

Ahli virus dari Ashoka University, Sonepat, Shahid Jameel, mengatakan bahwa ada 5.261 entri urutan dari India dalam database GISAID pada saat itu. "Dengan 11 juta kasus yang dikonfirmasi, itu angka urutannya di bawah 0,05%," katanya.

Januari lalu, sebanyak 740 ilmuwan menolak pembatasan yang ditimbulkan dengan mengurutkan basis data melalui surat terbuka. Mereka mendesak para ilmuwan yang bekerja untuk mengurutkan virus Corona untuk disimpan di database seperti GenBank, European Nucleotide Archive (ENA), dan DNA Databank of Japan. Menurut mereka, basis data terbuka ini memungkinkan lebih banyak berbagi data secara gratis.

"Pengaturan yang ideal adalah akses terbuka sepenuhnya. Memiliki akses kontrol grup terbatas tidak akan bekerja dengan baik," cetus kepala ENA Guy Cochrane.



Simak Video "Kemenkes Tekankan Vaksin COVID-19 Masih Efektif Tangkal B117"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)