Pertama Kali, Sistem Kekebalan Tubuh Kini Bisa Lawan Corona

Setahun Corona

Pertama Kali, Sistem Kekebalan Tubuh Kini Bisa Lawan Corona

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 02 Mar 2021 21:13 WIB
Genap setahun Corona mewabah di Indonesia. Corona terjadi di semua negara di dunia. Berikut negara-negara yang pernah melakukan lockdown dalam menghadapi pandemi ini.
Setahun Pandemi Corona, Pelajari Bagaimana Sistem Kekebalan Tubuh Bekerja. Foto: Detikcom
Jakarta -

Pandemi virus Corona masih melanda seluruh dunia. Penelitian selama dua belas bulan telah menunjukkan bahwa tubuh kita, dalam banyak kasus, mengembangkan respons kekebalan yang kuat dan terus-menerus melawan SARS-CoV-2.

Namun bagi beberapa orang dengan kasus yang parah, hal itu bisa lebih merusak dan menyakitkan alih-alih membantu. Pemahaman mendasar kita tentang respons kekebalan tubuh terhadap virus Corona memang telah berkembang secara signifikan, namun ada lebih banyak pertanyaan yang masih harus dijawab, terutama di tengah kekhawatiran bahwa mutasi virus dapat membantu SARS-CoV-2 menerobos pertahanan kekebalan tubuh kita.

Sisi baik respons kekebalan tubuh

Respon kekebalan tubuh berada pada suatu spektrum. Tubuh kita mengembangkan kekebalan seumur hidup terhadap virus seperti hepatitis A atau campak, sementara HIV, di sisi lain, dapat menerobos pertahanan tubuh kita selama kita hidup.

"Untungnya, SARS-CoV-2 lebih dekat dengan ujung spektrum hepatitis A. Ini bukan virus yang paling mudah, tapi juga tidak mendekati HIV," kata Andrea Cox, ahli imunologi virus Johns Hopkins University seperti dikutip dari National Geographic, Selasa (2/3/2021).

Dalam sebuah makalah ilmiah yang dipublikasikan Juni lalu, para peneliti menunjukkan untuk pertama kalinya pasien terinfeksi virus Corona yang pulih tidak hanya membuat antibodi spesifik untuk virus Corona, tetapi juga memunculkan tingkat sel T pembunuh dan sel T pembantu yang kuat.

Sel T pembunuh mengenali dan menghancurkan sel tubuh yang terinfeksi, yang dimaksudkan untuk mencegah penyebaran virus. Sementara itu, sel T pembantu mendorong proses tersebut dan mengkoordinasikan pematangan antibodi.

Sisi buruk respons kekebalan tubuh

Tidak semua orang dengan kasus COVID-19 punya respons kekebalan tubuh yang bisa bertahan lama. Hal ini dibuktikan dengan suramnya angka rawat inap dan kematian kasus COVID-19 di seluruh dunia.

Dalam kasus yang parah, sistem kekebalan sering kali rusak dan menyebabkan lebih banyak masalah pada tubuh yang terinfeksi.

"Setiap virus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia harus memiliki setidaknya satu mekanisme penghindaran kekebalan yang baik," kata ahli imunologi Shane Crotty.

Menurutnya, taktik penting yang digunakan SARS-CoV-2 adalah menghindari respons imun bawaan, garis pertahanan pertama sebelum kekebalan spesifik (antibodi dan sel T) dikembangkan.

Secara khusus, virus Corona sangat baik dalam menghindari interferon tipe I, memberi sinyal protein yang mendorong aktivitas antivirus di sel-sel terdekat dan memperkuat sistem kekebalan bawaan. Proses ini sering dikaitkan dengan kasus yang parah.

Metode apa pun yang digunakan virus corona untuk menghindari kekebalan bawaan, ketika sistem kekebalan akhirnya sadar akan invasi, ia dapat bereaksi berlebihan dan melakukan kerusakannya sendiri, seperti menciptakan badai sitokin.

Beberapa kasus yang parah memiliki respons yang persis seperti ini, mengubah sistem kekebalan melawan tubuhnya sendiri, mirip dengan apa yang terjadi dengan penyakit autoimun seperti lupus.

Banyak pertanyaan

Berbagai pertanyaan tentang berapa lama kekebalan bisa bertahan hingga munculnya kekhawatiran tentang jumlah infeksi ulang kemungkinan besar akan tetap ada, terutama dengan variabilitas respons imun.

Meski penelitian menunjukkan bahwa sekitar 90% pasien memiliki respons kekebalan enam bulan setelah infeksi, masih banyak kekhawatiran tentang hal ini.

"Jadi, sebagai kata peringatan, orang tidak boleh berasumsi bahwa jika telah terinfeksi, mereka dilindungi dan tak terkalahkan," kata Alessandro Sette ahli imunologi di La Jolla Institute for Immunology.

Sisi baiknya, vaksin menciptakan respons kekebalan yang lebih sempit secara umum daripada infeksi alami virus Corona yang menghasilkan respons kekebalan yang lebih bervariasi. Hal ini dapat membatasi tingkat terjadinya infeksi ulang karena lebih banyak orang yang diimunisasi.

"Orang-orang akan mengembangkan antibodi yang sangat kuat yang tahan lebih lama. Jadi itulah mengapa saya pikir vaksin lebih unggul daripada infeksi alami dalam memberikan resistensi di masa mendatang," kata Akiko Iwasaki, ahli imunologi di Yale University dan peneliti di Institut Medis Howard Hughes.

Vaksin menghasilkan respons yang lebih baik karena memfokuskan perhatian pada tubuh kita. Jumlah orang yang divaksinasi di seluruh dunia saat ini memang masih kecil, tetapi akan meningkat.

Semoga saja vaksinasi dapat menghambat penularan cukup cepat sehingga virus Corona tidak memiliki banyak peluang untuk bermutasi, yang dapat memengaruhi perlindungan jangka panjang.



Simak Video "Pandemi, Netizen Makin Sering Cari soal Ketuhanan di Google"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)