Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Cuma Perlu Sekali Suntik, Ini Bedanya - Halaman 2

Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Cuma Perlu Sekali Suntik, Ini Bedanya

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 02 Mar 2021 08:17 WIB
1248769314
Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Cuma Perlu Sekali Suntik, Ini Bedanya. Foto: Pedro Vilela/Getty Images

Perbedaan dengan vaksin dua dosis

Data yang ada saat ini menunjukkan vaksin dengan dua dosis atau dua kali suntikan lebih efektif mencegah gejala yang tidak terlalu serius dari COVID-19.

Namun, uji coba yang dilakukan Johnson & Johnson memberikan petunjuk lain mengenai situasi saat ini. Di AS, vaksin dua dosis Pfizer dan Moderna menunjukkan perlindungan terhadap COVID-19 sebesar 95%.

Sedangkan tingkat efektivitas satu dosis Johnson & Johnson terhadap penyakit serius adalah 85%, dan turun menjadi 66% untuk keseluruhan, bila data untuk penyakit lebih ringan juga dihitung.

Tapi sebenarnya, susah membandingkan begitu saja berbagai statistik ini karena adanya perbedaan di mana dan kapan setiap perusahaan ini melakukan uji coba.

Tidak seperti uji coba yang dilakukan Johnson & Johnson, penelitian yang dilakukan Pfizer dan Moderna sudah rampung sebelum varian virus baru di Afrika Selatan dan Inggris mulai menyebar luas.

Vaksin satu dosis lebih mudah disimpan

Selain hanya diperlukan satu dosis, vaksin Johnson & Johnson punya kelebihan lain, yaitu bisa disimpan di suhu yang lebih hangat.

Kesulitan dalam penyimpanan vaksin Pfizer adalah bahwa vaksin itu memerlukan tempat penyimpanan khusus dengan suhu minus 70 derajat celcius, sehingga susah dipindahkan dan juga disimpan.

Vaksin Moderna juga harus disimpan di bawah minus 20 derajat celcius. Sedangkan vaksin Johnson & Johnson, bisa disimpan di lemari es biasa di suhu antara 2-8 derajat celcius.

Dengan demikian, vaksin ini sama dengan vaksin Sputnik V milik Rusia dan Oxford AstraZeneca dalam hal suhu penyimpanan. Karenanya, vaksin ini lebih mudah dalam transportasi ke berbagai tempat.

Di AS, Johnson & Johnson menjanjikan bisa mendistribusikan 20 juta dosis vaksin hingga akhir bulan Maret dan sekitar 100 juta vaksin di akhir tahun 2021.

Bagaimana jika dapat vaksin yang efikasinya lebih rendah?

Sebagian orang mungkin akan berpikir, apakah ada gunanya mendapat vaksin yang efikasinya lebih rendah? Lalu jika penggunaan vaksin Johnson & Johnson meluas, apakah vaksin tersebut akan menggantikan vaksin yang lain?

Director National Institutes of Health AS Dr Francis Collins menyebutkan, dari hasil yang ada, sebenarnya tidak perlu memilih satu vaksin tertentu saja.

"Saya kira pertanyaan utama yang ingin diketahui orang adalah apakah vaksin ini akan mencegah saya terkena penyakit? Apakah ini akan mencegah saya mati dari penyakit serius? Berita bagusnya, untuk semua pertanyaan ini jawabannya adalah ya," tegasnya.

(rns/afr)