5 Fakta GeNose C19, Pendeteksi COVID-19 Buatan UGM

5 Fakta GeNose C19, Pendeteksi COVID-19 Buatan UGM

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 19 Feb 2021 19:06 WIB
PT KAI (Persero) melakukan uji coba penggunakan GeNose untuk mendeteksi COVID-19 di Stasiun Senen, Jakarta. Calon penumpang tampak antusias.
5 Fakta GeNose C19, Pendeteksi COVID-19 Buatan UGM. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

GeNose C19 dijadikan sebagai opsi screening deteksi paparan COVID-19. Penggunaan teknologi karya anak bangsa ini sudah dimulai di sejumlah stasiun dan rencananya akan diperluas untuk membantu memulihkan mobilitas masyarakat.

"Tujuan GeNose adalah mencegah ada orang yang positif (COVID-19) di antara kita. Harapannya agar tidak terlalu khawatir karena sudah terseleksi sehingga pelan-pelan mulai timbul kepercayaan sehingga pariwisata dan mobilitas kita bergerak lagi," kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro saat meluncurkan GeNose C19 yang disiarkan secara virtual, Jumat (19/2/2021).

Berikut ini adalah rangkuman fakta-fakta menarik mengenai alat screening COVID-19 GeNose C19:

1. Dikembangkan oleh UGM

GeNose dibuat dan dikembangkan oleh gabungan tim ahli dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, yang dipimpin oleh Ketua Tim Pengembang GeNose Kuwat Triyatna. Alat ini sudah melalui tahap uji diagnostik atau uji klinis yang disebar di sejumlah rumah sakit di Indonesia akhir 2020.

Saat ini GeNose C19 sudah mengantongi izin edar dari pemerintah per 24 Desember 2020. UGM mengklaim GeNose siap diproduksi hingga 5.000 unit pada Februari 2021.

2. Sudah dikembangkan sejak 2010

Tim UGM rupanya sudah mengembangkan alat ini sejak 2010. Saat itu peruntukannya adalah mendeteksi tuberkulosis atau TBC dari embusan napas. Ketika datang pandemi COVID-19, tim UGM pun memodifikasinya sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk screening COVID-19.

Pola pendeteksian TBC sama dengan screening COVID-19 saat ini yaitu memanfaatkan uap napas atau volatile organic compound (VOC). Pada orang yang sudah terpapar virus, VOC akan menunjukkan apakah orang tersebut terjangkit virus Corona atau tidak.

3. Cara kerja GeNose C19

GeNose C19 mendeteksi napas yang diembuskan pasien ke dalam kantung khusus. Setelah itu, kantung dihubungkan ke GeNose untuk dianalisis menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Output dari analisis GeNose adalah respons sensor dari senyawa volatile organic compounds (VOC) yang dihasilkan oleh virus yang menginfeksi tubuh manusia. Dalam waktu kurang dari lima menit, hasil tes sudah bisa diperoleh.

4. Tingkat Akurasi

GeNose C19 diklaim sebagai merupakan alat pendeteksi dini COVID-19 yang efektif. Akurasi alat tersebut memiliki sensitivitas 92% dan spesifisitas 95%.

Tim UGM merancang uji klinis dengan sampel 2.000-an orang. Partisipan yang dibandingkan, diminta melakukan swab PCR dan tes embusan napas. Ternyata dari uji tahap pertama didapatkan tingkat akurasi 95%-97%. Dengan dasar itulah mereka mendapatkan izin edar dari Kemenkes.

5. Harga GeNose C19

Per unitnya alat ini dijual di kisaran Rp 60 jutaan per 100.000 kali tes. Sedangkan alat penghubung sekali pakai untuk pengetesan GeNose C19 hanya Rp 20 ribu, terdiri dari kantong plastik khusus, hepa filter, adaptor pipe, plug, dan selang PU sepanjang 15 meter.

Harga tersebut diklaim membuat GeNose C19 menjadi alat deteksi dini COVID-19 yang terjangkau, sebab jika dihitung biaya per satu kali tes, masyarakat hanya akan mengeluarkan biaya Rp 20-25 ribu.



Simak Video "Gagal Atasi Pandemi, Presiden Paraguay Reshuffle Menteri"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)