China Tuduh Media Bungkam Soal Kematian di Norwegia Usai Divaksin Pfizer

China Tuduh Media Bungkam Soal Kematian di Norwegia Usai Divaksin Pfizer

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Sabtu, 16 Jan 2021 18:00 WIB
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Esti Widiyana/detikcom)
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac (Esti Widiyana/detikcom)
Jakarta -

Media pemerintah China menuduh semua pihak bungkam soal kematian 23 orang di Norwegia usai diberi vaksin Corona dari Pfizer. Apa faktanya?

Itulah tulisan editorial dari Global Times, media pemerintah China, seperti dilihat Sabtu (16/1/2021). Mereka menulis dengan judul Kenapa Media AS Bungkam Soal Kematian Vaksin Pfizer.

Berita ini merujuk pada kejadian 23 manula di Norwegia meninggal usai menerima vaksin Corona Pfizer. 13 Manula di antaranya mengalami efek samping seperti dilaporkan Norwegian Medicines Agency.

Menurut Global Times, 23 orang tewas dari 25 ribu orang yang divaksin dengan Pfizer adalah angka yang besar. Mereka mengkritik media besar di AS dan Inggris mengecilkan perkara ini.

Sebaliknya, mereka menuding efikasi vaksin Sinovac yang rendah di Brasil justru dibesar-besarkan. Media barat dituduh lebih mempromosikan Pfizer dan kontra terhadap Sinovac.

Apa benar tuduhan pihak China ini? Dalam penelusuran detikINET, media besar seperti New York Post memberitakan kasus kematian di Norwegia. Media sekelas Bloomberg bahkan memberitakan kasus kematian nakes di Florida usai disuntik vaksin Corona dari Pfizer.

Tudingan China tampaknya berlebihan. Namun dari sini publik bisa memahami adanya persaingan ketat antar produsen vaksin dunia.

Vaksin COVID-19 adalah masalah ilmiah yang serius, situasi pandemi juga sangat gawat. Riset soal vaksin Corona dilakukan semua pihak dengan secepat mungkin. Uji coba vaksin dilakukan lebih singkat dari pada seharusnya, karena situasi yang darurat.

China mengandalkan vaksin yang dilemahkan. Sementara Pfizer memakai mRNA, rekayasa protein yang menjadi jurus baru.

China mengklaim metode vaksin dilemahkan lebih teruji karena sudah dilakukan sejak lama. Sedangkan mRNA baru pertama kali dicoba untuk vaksin. Meski begitu, efikasi vaksin Sinovac yang hanya 50,4% di Brasil tentu menjadi pertanyaan juga.

Indonesia sudah memulai vaksinasi Sinovac dengan efikasi 65,35%. Turki juga sudah memulai vaksinasi dengan efikasi 91,25%. China juga sudah memulai vaksin Sinovac dengan efikasi 79,3%.

"Memang berbeda suasana ekosistem strategisnya masing-masing tempat di mana uji klinis dilakukan sangat berbeda. Contohnya untuk subjek uji klinis di Brasil itu terdiri dari semua tenaga kesehatan (nakes). Di Turki 20% nakes, 80% adalah pekerja risiko tinggi, supir taksi, pedagang di pasar. Sementara di Indonesia betul-betul dibuka untuk umum," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito dalam webinar Ikatan Alumni ITB, Sabtu (16/1).



Simak Video "Vaksin Sinovac Tiba"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/afr)