Mengejutkan! Bulan Pernah 'Hilang' dari Langit Malam Tahun 1100

Mengejutkan! Bulan Pernah 'Hilang' dari Langit Malam Tahun 1100

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 05 Jan 2021 05:44 WIB
Foto kombo gerhana bulan parsial terlihat di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (17/7/2019). Fenomena gerhana bulan setengah tersebut hanya terlihat hingga pukul 04.00 WIB karena sebagian langit tertutup awan di kota itu. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/wsj.
Ilustrasi gerhana bulan (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta -

Menurut catatan NASA berdasarkan perhitungan ulang astronomis, tujuh gerhana bulan total setidaknya pernah terlihat di Eropa dalam 20 tahun pertama milenium terakhir, antara 1100 dan 1120 Masehi. Di antaranya, ada gerhana bulan yang terjadi pada Mei 1110 dan digambarkan sebagai kegelapan Bulan yang luar biasa.

"Pada malam kelima di bulan Mei tampak Bulan bersinar terang di malam hari, dan kemudian sedikit demi sedikit cahayanya berkurang. Sehingga, begitu malam tiba, Bulan itu benar-benar padam. Baik cahaya, bola, atau apapun itu tidak terlihat," tulis seorang pengamat di Peterborough Chronicle.

Sejak saat itu, banyak astronom membahas gerhana bulan yang gelap dan misterius ini. Karena, saat gerhana Bulan, wujudnya tidak pernah benar-benar gelap sampai 'menghilang'. Berabad-abad setelah itu terjadi, astronom Inggris Georges Frederick Chambers menulis tentang hal itu.

"Jelaslah bahwa ini adalah contoh gerhana 'hitam' ketika Bulan menjadi sangat tidak terlihat, alih-alih bersinar dengan rona tembaga yang sudah dikenal pada umumnya saat gerhana bulan," tuturnya.

Meskipun peristiwa tersebut terkenal dalam sejarah astronomi, para peneliti tidak pernah berpendapat bahwa hal itu mungkin disebabkan oleh adanya aerosol vulkanik di stratosfer -- meskipun itu kemungkinan besar penyebabnya berdasarkan studi baru.

Meskipun tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti, tim tersebut berpendapat bahwa penjelasan yang paling mungkin adalah Gunung Asama di Jepang, yang menghasilkan letusan raksasa selama berbulan-bulan pada tahun 1108. Ini secara signifikan lebih besar dari letusan berikutnya pada tahun 1783 yang menewaskan lebih dari 1.400 orang. Sebuah tulisan buku harian yang direkam oleh seorang negarawan menggambarkan peristiwa 1108.

"Ada api di puncak gunung berapi, lapisan abu tebal, di mana-mana sawah dan sawah dianggap tidak layak untuk ditanami. Kami tidak pernah melihatnya di negara ini. Ini sangat aneh dan langka," tulis catatan tersebut.

Selain catatan saksi, para peneliti juga melihat bukti cincin pohon, yang menunjukkan bahwa 1109 M adalah tahun yang sangat dingin (sekitar 1 derajat Celcius lebih dingin di belahan Bumi Utara), berdasarkan cincin pohon yang jauh lebih tipis.

Dokumentasi sejarah lainnya, khususnya mengenai dampak iklim dan sosial pada tahun 1109-1111 M, menguatkan hipotesis bahwa letusan tahun 1108 (atau serangkaian letusan yang dimulai pada tahun itu), dapat menyebabkan dampak bencana pada masyarakat yang terkena dampak.

Para peneliti menemukan banyak kesaksian yang mengacu pada cuaca buruk, gagal panen, dan kelaparan di tahun-tahun tersebut. Tentu saja, kesulitan di masa lalu itu tidak dapat dianggap sebagai bukti peristiwa letusan tertentu, tetapi para peneliti mengatakan semua bukti, jika digabungkan, menunjukkan gugus letusan gunung berapi yang terlupakan pada tahun 1108 hingga 1110 menimbulkan konsekuensi yang mengerikan bagi umat manusia. Termasuk juga kemungkinan penyebab Bulan yang menghilang dari langit malam kala itu.

Penemuan ini dilaporkan dalam Scientific Reports, demikian melansir Live Science, Selasa (5/1/2021).



Simak Video "Pemantauan Gerhana Bulan Total di Pantai Ancol"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)