Potensi Bahaya di Balik Matahari Buatan China

Potensi Bahaya di Balik Matahari Buatan China

Tim - detikInet
Senin, 14 Des 2020 05:15 WIB
Matahari buatan China
Ptoyek Matahari buatan China. Foto: Dok. Xinhua/Zhang Chaoqun
Jakarta -

China tengah mengembangkan energi bersih dengan membuat HL-2M Tokamak, proyek yang juga dikenal dengan julukan Matahari buatan. Potensinya memang sangat besar sekaligus mengandung risiko bahaya jika tidak dikendalikan dengan baik.

Sebenarnya julukan sebagai Matahari buatan tidak sepenuhnya tepat. Matahari terus memancar setidaknya selama 4,6 miliar tahun sampai saat ini menurut ilmuwan, sementara eksperimen HL-2M baru menyala selama beberapa detik.

Namun demikian, proyek ini memang merupakan langkah penting bagi rencana China untuk mencapai target produksi komersial energi fusi di tahun 2050. Sumber energi semacam ini sebenarnya sudah dibatalkan pengerjaannya oleh berbagai negara karena dipandang memakan ongkos dan cukup berisiko.

Pada dasarnya, proyek ambisius Matahari buatan tersebut bekerja dengan menggabungkan dua inti hidrogen hingga menciptakan energi panas yang luas biasa. Proses ini juga dikenal dengan nama fusi nuklir.

"Fusi nuklir merupakan sumber energi bintang-bintang, tapi untuk membuatnya ulang di Bumi dan menjaganya dalam kontrol sehingga tidak akan meledak tetap merupakan tantangan yang serius," tulis South China Morning Post yang dikutip detikINET.

Gas panas yang terbentuk dalam fusi atom membakar atau melelehkan semua yang disentuhnya, sementara reaksi nuklir yang tercipta dari partikel kecepatan tinggi dalam jumlah besar bisa menghancurkan bangunan atau melukai orang jika tidak dikendalikan dengan hati-hati.

Walau tantangan menghadang proyek Matahari buatan, pemerintah China mungkin akan tetap membangun China Fusion Engineering Test Reactor (CFETR) yang bakal menggunakan medan magnet kuat untuk menahan gas panas atau plasma. Reaktor ini diharapkan dapat membuat gas panas tetap menyala lama dan strukturnya tangguh untuk mengendalikannya sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan komersial.

Namun demikian masalahnya jika nanti tujuannya adalah untuk kepentingan komersial, ilmuwan belum tahu sampai berapa lama reaktor tetap menyala dan kedua, perlu beroperasi minimal 10 kali temperatur inti Matahari, yang baru bisa dicapai oleh Matahari buatan yang diujicoba itu.

Proyek Matahari buatan itu diklaim memanfaatkan teknologi paling maju di China, bahkan mungkin di dunia, mampu menahan bombardir partikel sampah berulangkali yang diproduksi oleh gas panas. Tapi itupun diperkirakan tidak bisa selamanya.

"Untuk operasi dalam jangka pendek tak masalah. Tapi tidak ada material buatan manusia yang bisa bertahan dengan kerusakan kumulatif dari partikel sub atom dalam waktu bertahun-tahun atau dekade. Memang akan butuh waktu lama untuk menemukan material yang tepat," cetus Wang Yugang, profesor fisika nuklir di Peking University.

Maka, tantangan teknis dari proyek ini memang bisa dikatakan sangat pelik. Namun demikian, China akan jalan terus mengingat manfaatnya sebagai sumber energi dianggap penting.

"Pengembangan energi fusi nuklir tidak hanya menjadi jalan untuk menyelesaikan kebutuhan energi strategis China, tapi juga memiliki arti penting bagi pengembangan energi dan ekonomi nasional China yang berkelanjutan di masa depan," kata media milik pemerintah China People's Daily.



Simak Video "Nggak Mau Kalah! Eropa Bikin Matahari Buatan Saingi China"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)