Sekolah Tatap Muka Dikaji, Bagaimana Aturan WHO?

Sekolah Tatap Muka Dikaji, Bagaimana Aturan WHO?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 23 Nov 2020 13:45 WIB
Siswa di lereng Gunung Merapi tetap belajar di sekolah meski status gunung itu kini siaga. KBM tatap muka di sekolah itu hanya dilakukan 2 hari selama 1 minggu.
Ilustrasi sekolah tatap muka. Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Para kepala daerah sedang mengkaji usulan pembukaan sekolah tatap muka. Ini dikarenakan Mendikbud Nadiem memberikan kewenangan penuh izin pembelajaran sekolah tatap muka Januari 2021 kepada pemerintah daerah. Tapi bagaimana aturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait sekolah di tengah pandemi?

Berikut ini pertanyaan paling sering ditanyakan dan jawaban WHO:

1. Apakah anak berisiko lebih rendah terkena COVID-19?

Sejauh ini, data menunjukkan bahwa anak di bawah usia 18 tahun mewakili sekitar 8,5% kasus yang dilaporkan, dengan kematian yang relatif sedikit dibandingkan dengan kelompok usia lain dan biasanya penyakit ringan. Namun, kasus penyakit kritis juga telah dilaporkan.

"Seperti pada orang dewasa, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya telah menunjukkan sebagai faktor risiko penyakit tingkat parah dan perawatan intensif pada anak-anak. Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk menilai risiko infeksi pada anak-anak dan untuk lebih memahami penularan pada kelompok usia ini," tulis WHO.

2. Apakah anak dengan penyakit bawaan (asma, diabetes, obesitas) disarankan kembali ke sekolah?

Apakah seorang anak boleh kembali ke sekolah tergantung pada kondisi kesehatan mereka, penularan COVID-19 saat ini di masyarakat, dan langkah-langkah perlindungan yang dimiliki sekolah untuk mengurangi risiko penularan COVID-19.

Meskipun bukti saat ini menunjukkan bahwa risiko penyakit parah pada anak-anak secara keseluruhan lebih rendah daripada orang dewasa, tindakan pencegahan khusus dapat diambil untuk meminimalkan risiko infeksi di antara anak-anak. Manfaat kembali ke sekolah juga harus dipertimbangkan.

"Bukti terkini menunjukkan bahwa orang dengan kondisi yang mendasari seperti penyakit pernapasan kronis termasuk asma (sedang hingga berat), obesitas, diabetes atau kanker, berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah dan kematian daripada orang tanpa kondisi kesehatan lain. Ini juga tampaknya terjadi pada anak-anak, tetapi lebih banyak informasi masih diperlukan," papar WHO.

3. Apakah ada rekomendasi khusus tentang ventilasi sekolah dan penggunaan AC?

Ya, tentunya harus dipastikan adanya ventilasi yang memadai di sekolah tatap muka. Ventilasi alami yang bersih (membuka jendela) harus digunakan di dalam gedung jika memungkinkan. Jika AC digunakan, sistem tersebut harus diperiksa, dipelihara, dan dibersihkan secara teratur. Pertimbangkan untuk membuka ventilasi maksimum selama dua jam sebelum dan sesudah saat ruangan ditempati.

4. Apakah guru dan staf yang berusia 60 tahun ke atas aman untuk kembali ke sekolah?

Orang dewasa berusia 60 tahun ke atas dan orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya berisiko lebih tinggi terkena penyakit dengan tingkatan lebih parah. Keputusan untuk kembali ke lingkungan pengajaran atau sekolah tatap muka tergantung pada individu dan harus mencakup pertimbangan tren penyakit lokal, serta langkah-langkah yang diterapkan di sekolah untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.



Simak Video "Kamboja Buka Lagi Sekolah Usai 5 Pekan Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fyk)