Duit Triliunan, Ilmuwan Pembuat Vaksin Corona Tak Punya Mobil

Duit Triliunan, Ilmuwan Pembuat Vaksin Corona Tak Punya Mobil

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 13 Nov 2020 13:15 WIB
BioNtech: Dengan Kecepatan Cahaya Ciptakan Vaksin Corona Pertama
Ugur Sahin dan istrinya. Foto: DW (SoftNews)
Jerman -

Ugur Sahin dan istrinya, Ozlem Tureci, sedang jadi sorotan lantaran vaksin Corona besutan perusahaannya, BioNTech bekerja sama dengan Pfizer, diklaim 90% ampuh menangkal virus Corona. Walau semakin kaya raya, pasangan ini disebut tetap sederhana.

Perhitungan terkini dari Forbes menyebut bahwa jumlah kekayaan Sahin berkat kabar keberhasilan vaksin Corona perusahaannya, berada di kisaran USD 4,7 miliar atau sekitar Rp 66,3 triliun. Ia pun masuk ke dalam daftar atas orang-orang terkaya di Jerman.

Koleganya mengenal Sahin dan sang istri tidak neko-neko. Ke kantor atau ke pertemuan bisnis, Sahin lebih suka berjalan kaki saja atau naik sepeda.

"Dia adalah orang yang amat sederhana. Penampilan tidak berarti banyak buat dia. Namun dia ingin menciptakan struktur yang memungkinkan dia mewujudkan visi dan di situlah harapannya tidak sederhana," kata profesor Matthias Theoblad, rekan kerjanya di Mainz University.

Dalam wawancara dengan Washington Post yang dikutip detikINET, profesor Sahin mengaku sampai saat ini tidak punya mobil. "Saya tidak punya mobil, saya juga tidak akan membeli sebuah pesawat," kata Sahin.

"Apa yang mengubah hidup adalah untuk berdampak pada sesuatu di bidang kesehatan," tambah sosok yang gandrung membaca jurnal ilmiah ini. Vaksin Corona adalah salah satunya.

"Kami ingin terus fokus pada pekerjaan kami. Saya orang kelas menengah dan baik-baik saja untuk hidup seperti ini, kami tidak butuh yang lebih lagi," katanya dalam wawancara terpisah dengan Sky News.

Keduanya berasal dari keluarga imigran. Sahin yang adalah CEO BioNTech, lahir di kota Iskenderun, Turki. Ia dan orang tuanya pindah ke Jerman Barat saat Sahin masih berusia 4 tahun. Ayahnya kemudian bekerja di pabrik mobil Ford di kota Cologne.

Sedangkan sang istri, Dr Tureci, lahir di Jerman, tapi ayahnya adalah dokter asal Turki yang bermigrasi dari Istanbul. Tureci berstatus sebagai Chief Medical Officer BioNTech. Perusahaan medis itu mereka dirikan pada tahun 2008.

Walau vaksin Corona buatan BioNTech dan Pfizer menjanjikan, tetaplah hal itu masih tahap awal dan tantangan di depan tidak mudah. "Ini merupakan virus baru dan situasi yang benar-benar baru juga bagi umat manusia," kata Sahin.

"Manufakturnya akan menjadi sebuah tantangan. Dosisnya sungguh luar biasa banyak, jadi jauh dari mudah, lanjutnya. Persetujuan dari regulator mungkin baru akan tercapai pada pertengahan Desember sehingga vaksin Corona mereka barangkali baru tersedia secara luas pada tahun depan.



Simak Video "WHO Restui Penggunaan Vaksin Pfizer-BioNTech untuk COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/rns)