Vaksin-vaksin yang Tersandung Fenomena ADE, Ilmuwan Harus Hati-hati

Vaksin-vaksin yang Tersandung Fenomena ADE, Ilmuwan Harus Hati-hati

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 13 Okt 2020 21:35 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Ilustrasi vaksin corona. Foto: iStock
Jakarta -

Vaksin dielu-elukan sebagai senjata untuk melumpuhkan virus corona, tapi ternyata tidak semua kisah vaksin punya kisah sempurna.

Mengutip CNN Indonesia, Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Chaerul Anwar Nidom menjelaskan bahwa ada beberapa kasus di mana vaksin menimbulkan fenomena Antibody-Dependent Enhancement atau ADE.

ADE merupakan fenomena pengikatan virus ke antibodi suboptimal yang meningkatkan masuknya virus ke dalam sel inang, diikuti dengan replikasinya.

Kejadian ADE pernah terjadi pada vaksin dengue (vaksin demam berdarah) yang sempat diuji di Filipina pada 2017 silam. Nidom mengungkap vaksin tersebut sudah melewati uji klinis tahap III dan dikomersialisasikan. Ketika vaksin diuji ke anak-anak, vaksin ini justru memberikan efek patogensitas yang lebih tinggi ketika pasien terinfeksi virus berikutnya. Vaksin ini pun dihentikan.

Melansir Virology, ialah vaksin Dengvaxia yang akhirnya tidak lagi diproduksi. Sanofi pun mencatat bahwa seharusnya orang-orang yang tidak pernah terpapar virus dengue tidak diberikan vaksin tersebut.

Selain itu, ada juga kejadian vaksin HIV di Afrika. Vaksin yang diproduksi sebuah lembaga riset Amerika Serikat ini ternyata malah menimbulkan masalah baru karena fenomena ADE.

"Maka program vaksinasi HIV distop," ujar Nidom.

Fenomena ADE ini sudah diselidiki pada percobaan preklinis kandidat vaksin SARS-CoV-2 dan dinyatakan aman,"Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Unpad Prof Dr Kusnandi Rusmil, dr, SpA(K), MM

Kendati demikian, menurut situs covid19.go.id, penelitian terhadap kemungkinan fenomena ADE pada vaksin corona sudah diselidiki pada percobaan preklinis.

Ialah Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad yang juga Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad Prof Dr Kusnandi Rusmil, dr, SpA(K), MM, yang membantah adanya kemungkinan fenomena tersebut pada SARS-CoV-2.

"Fenomena ADE ini sudah diselidiki pada percobaan preklinis kandidat vaksin SARS-CoV-2 dan dinyatakan aman," ucap Prof Kusnandi.

Prof Kusnandi menambahkan fenomena ADE sejauh ini baru terlihat pada dengue. Keberadaan fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).

"Tidak menggambarkan fenomena di manusia," tegasnya.



Simak Video "Sederet Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer yang Uji Klinisnya Sudah Rampung"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)