Ilmuwan Sediakan Ladang Mayat untuk Penelitian

Ilmuwan Sediakan Ladang Mayat untuk Penelitian

Rachmatunnisa - detikInet
Senin, 05 Okt 2020 06:07 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilmuwan Sediakan Ladang Mayat untuk Penelitian. Foto: Ilustrasi/ThinkStock
Jakarta -

Di tengah hutan yang berjarak beberapa kilometer dari Alcoa Highway di Tennessee, Amerika Serikat, ada sebidang tanah seluas 1 hektar dikelilingi pagar kawat silet. Ini adalah ladang mayat!

Ya, di ladang mayat atau body farm ini, demikian para ilmuwan menyebutnya, tersebar tubuh manusia yang dibiarkan membusuk di tempat terbuka, terkunci di bagasi mobil, atau terendam di dalam air.

Dikutip dari IFL Science, semua tubuh manusia ini diawasi dengan ketat oleh para ilmuwan guna melihat apa yang terjadi selanjutnya, untuk kepentingan penelitian.

Konsep body farm untuk penelitian mayat sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ide ini pertama kali digagas oleh antropolog William M. Bass pada tahun 1971.

Saat itu, Bass ingin lebih memahami proses dekomposisi tubuh manusia setelah diminta oleh penegak hukum untuk menganalisis tubuh seseorang dalam sebuah penyelidikan kriminal.

Polisi menemukan kuburan yang telah dibongkar dan mayat di dalamnya tampak segar. Temuan ini sangat mencurigakan untuk jenazah yang diduga meninggal karena perang saudara.

Kejanggalan ini juga meyakinkan Bass bahwa studi lebih lanjut tentang dekomposisi mayat diperlukan. Dia percaya bahwa dengan mengetahui proses yang tepat dan variabel yang dapat mempengaruhinya, seperti suhu dan paparan, dapat membantu penegak hukum menemukan petunjuk yang berguna, seperti waktu dan keadaan kematian saat mayat ditemukan. Dari sinilah Bass punya ide untuk membuka lahan body farm di dunia.

Awalnya, Bass mengandalkan tubuh yang tidak diklaim dari pemeriksa medis atau pihak keluarga sebagai bahan penelitiannya. Selanjutnya mulai ada orang yang mau menyumbangkan tubuh mereka untuk dibiarkan membusuk di ladang tersebut dan diteliti.

Saat ini, ada tujuh body farm yang beroperasi di seluruh AS. Semuanya mempelajari berbagai aspek dekomposisi, memberikan pelatihan kepada penyelidik forensik tentang cara menangani tubuh di TKP, dan memberikan petunjuk penting untuk penegakan hukum dalam hal investigasi kematian.

Semua body farm bekerja dengan cara yang kurang lebih sama, meskipun prosedur akan bervariasi di antara ladang satu dan lainnya. Ketika tiba di body farm, mayat akan difoto terlebih dahulu, diukur, dan diambil sampel darahnya.

Selajutnya, mayat akan ditempatkan dalam situasi apa pun yang tim forensik rencanakan untuk dipelajari, misalnya terkena paparan sinar Matahari, terkubur di bawah tanah, terendam air, dan lain-lain.

Terkadang jenazah ditempatkan di bawah kurungan untuk mencegah ada hewan datang menggerogoti mayat. Namun ada juga yang dibiarkan terbuka untuk mengamati apa yang terjadi pada jenazah tersebut.

Para ilmuwan kemudian mengamati tubuh saat mereka membusuk. Bergantung pada tahap komposisi yang mereka pelajari, mereka dapat mengumpulkan sampel dari tubuh pada waktu yang berbeda-beda. Terkadang mayat dibiarkan selama berminggu-minggu, terkadang selama bertahun-tahun.

Penelitian di ladang mayat mungkin terdengar suram dan menakutkan. Tapi, banyak hal yang dapat dipelajari di fasilitas ini mulai dari bagaimana populasi serangga dipengaruhi oleh keberadaan bangkai yang membusuk, hingga bagaimana tubuh yang membusuk mempengaruhi flora dan fauna di sekitarnya.

Baru-baru ini, para peneliti juga menandai tanaman yang tumbuh subur sebagai salah satu indikator terdapat tubuh terkubur di dalamnya, karena jasad yang membusuk dapat memperkaya nutrisi di dalam tanah.



Simak Video "Pertama! Dua Wanita Raih Penghargaan Nobel Bidang Kimia Bersamaan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)