Daftar Fenomena Astronomi September 2020, Bisa Dilihat Langsung

Daftar Fenomena Astronomi September 2020, Bisa Dilihat Langsung

Siti Fatimah - detikInet
Jumat, 04 Sep 2020 13:01 WIB
Keindahan Bima Sakti memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun melalui karya-karya berikut ini kita bisa melihat betapa menakjubkannya langit malam
Daftar Fenomena Astronomi September 2020 (Foto: Istimewa/Dok. Boredpanda)
Bandung -

Deretan pertunjukan alam akan berlangsung di bulan ini. Observatorium Bosscha telah merangkum kalender fenomena astronomi bulan September 2020.

Di bulan ke sembilan tahun ini, Bosscha memaparkan fenomena astronomi bulan September selama empat minggu. Informasi tersebut di unggah oleh Bosscha melalui akun Instagram mereka di @bosschaobservatory meenyebutkan setidaknya ada 10 fenomena langit yang terjadi pada September 2020.

"Kalender astronomi ini kami susun agar masyarakat menjadi lebih aware tentang fenomena astronomi yang akan terjadi di sekitar mereka, khususnya peristiwa-peristiwa yang mudah untuk diamati di malam hari," kata Peneliti Observatorium Bosscha Yatny Yulianti saat dihubungi detikcom, Jumat (4/9/2020).

Inilah 5 fenomena astronomi bulan September 2020:

1. Fase Bulan

Fenomena fase bulan terjadi sebanyak tiga kali dengan kejadian yang berbeda-beda. Yatny mengatakan, pada 2 September 2020 lalu telah terjadi bulan purnama.

Kemudian akan terjadi fase bulan kuartal terakhir pada 10 September dan kuartal pertama pada 24 September 2020. Fase bulan adalah bentuk bulan yang selalu berubah-ubah jika dilihat dari bumi.

Yatny mengatakan, fase bulan ini merupakan fenomena astronomi yang biasa terjadi setiap harinya. Namun kebanyakan orang tidak akan sadar dengan perubahan yang terjadi pada bulan.

"Fenomena seperti fase bulan, merupakan fenomena yang sangat dekat dan kita alami setiap hari, tapi banyak yang tidak ngeh dengan perubahan bentuk dan posisi bulan dari hari ke hari," katanya.

2. Puncak Hujan Meteor-Perseid

Pada 9 September 2020, Bosscha mengungkapkan akan terjadi fenomena astronomi berupa puncak hujan meteor pada pukul 22.01 waktu lokal di timur laut, tampak hingga fajar.

Bagi pecinta astronomi, fenomena ini terjadi konstelasi Perseus, dekat bintang Algol ZHR lima metero perjam dapat dilihat tanpa alat bantu dalam kondisi langit gelap.

"Fenomena seperti hujan meteor bisa dinikmati dengan mata telanjang, hanya perlu berada di tempat yang gelap dengan pandangan ke langit cukup luas," tutur Yatny.

Selanjutnya: Komet dan meteor...

3. Fenomena Konjungsi

Di bulan September ini, langit kembali akan menampilkan fenomena konjungsi yang cukup banyak. Bosscha mencatat ada empat kejadian fenomena konjungi yang mudah diidentifikasi karena posisinya dekat dengan bulan.

Pada 6 September konjungsi bulan dan Mars dapat disaksikan, kemudian bulan dengan Venus pada 14 September ditambah dengan Jupiter pada 15 September. Ditutup dengan konjungsi bulan dengan Saturnus pada 26 September 2020.

"Planet-planet terang di Tata Surya pada bulan ini berada di posisi yang baik untuk diamati. Kita bisa melihat Jupiter dan Saturnus berada diposisi tinggi tidak lama setelah matahari terbenam," jelas Yatny.

4. Komet 88P/Howell

Untuk dapat menikmati fenomena satu ini, dibutuhkan alat bantu teleskop. Bosscha memprediksi akan terjadi pada 17 September.

"Tampak sejak senja di altitude 52 derajat arah barat daya, terbenam pukul 22.14 waktu lokal. Konstelasi Scorpius dekat bintang Dschubba," katanya.

5. Puncak Hujan Meteor Sextantid

Fenomena astronomi di Bulan September ditutup dengan puncak hujan meteor sextantid. Terjadi pada 27 September mulai dini hingga siang hari.

Waktu terbaiknya yaitu pukul 03.30 hingga 05.30 waktu lokal di timur. Diperkirakan ada lima meteor yang memancar per jamnya.

"Konstelasi Sextans dekat Venus dapat dilihat tanpa alat bantu dengan kondisi langit gelap," kata Yatny.

Dia mengatakan, seluruh fenomena astronomi dapat dilihat tanpa menggunakan alat bantu optik yang khusus. "Memang dengan binokular dan teleskop kecil bisa terlihat lebih jelas," tuturnya.

Yatny juga mengajak masyarakat untuk turut memperhatikan segala sesuatu perubahan yang terjadi di langit bumi. "Namun poinnya adalah mengajak masyarakat untuk lebih sering mengamati apa yang terjadi di langit," pungkasnya.

(bbn/fay)