Kejanggalan Plandemic, Film Konspirasi COVID-19 yang Kontroversial - Halaman 2

Kejanggalan Plandemic, Film Konspirasi COVID-19 yang Kontroversial

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 29 Mei 2020 16:50 WIB
Meski rilis pada 4 Mei silam, film  Plandemic yang menampilkan seorang ilmuwan kontroversial, Dr Judy Mikovits, masih banyak dicari orang. Namun kali ini berbeda, orang-orang justru mengecek mengenai kebenaran dan kejanggalan yang ada dalam video tersebut.

Sebagai latar belakang, Plandemic dibuat oleh Mikki Willis yang merupakan produser film. Dari video ini, Dr Judy menjelaskan pandangannya mengenai COVID-19 yang ia yakini sebagai bagian dari konspirasi dan menyeret nama Dr Anthony Fauci hingga Bill Gates.
Mengupas kejanggalan yang ada pada film 'Plandemic'. Foto: Internet

3. Klaim penyakit lama dan tidak terjadi secara alami

Mengutip Politifact yang melakukan fact-checking dokumenter Plandemic, penjelasan ini adalah salah. Virus yang menyebabkan COVID-19 adalah penyakit baru bukan dari Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Memang novel coronavirus mirip dengan SARS dalam beberapa hal. Keduanya adalah virus Corona manusia yang diduga berasal dari kelelawar serta menyebabkan penyakit pernapasan dan menyebar melalui batuk dan bersin.

Tetapi virus ini memiliki 79% kesamaan genetik, menurut para peneliti. Coronavirus novel ini lebih mirip secara genetik dengan coronavirus yang diturunkan kelelawar lainnya daripada SARS.

4. Klaim Hydroxychloroquine efektif melawan virus Corona

Nah, yang ini belum bisa dibilang salah, tapi tepatnya terlalu dini untuk menyimpulkan. Sejauh ini tidak ada obat atau vaksin untuk SARS atau coronavirus baru.

Sementara beberapa penelitian telah menemukan bahwa hydroxychloroquine dapat mengurangi beberapa gejala yang terkait dengan COVID-19, penelitian lain tidak menemukan efek yang sama.

Dengan lebih dari 50 penelitian yang sedang dikerjakan, serta uji coba klinis NIH, terlalu dini untuk mengatakan apakah obat ini adalah pengobatan yang layak untuk coronavirus. Beberapa negara juga telah membatasi penggunaan hydroxychloroquine mengingat keterbatasan informasi tentang bagaimana kerja obat mempengaruhi virus Corona.

(ask/fay)