Ajaib, Salju di Antartika Berubah Jadi Hijau

Ajaib, Salju di Antartika Berubah Jadi Hijau

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 23 Mei 2020 06:00 WIB
antartika
Para ilmuwan sedang meneliti fenomena menhijaunya salju di Antartika. Foto: New Scientist
Jakarta -

Para ilmuwan melaporkan sebagian wilayah Antartika berwarna hijau. Fenomena tak biasa ini sedang dalam penelitian para ahli.

Rupanya, menghijaunya sebagian wilayah di semenanjung Antartika tersebut disebabkan oleh spesies ganggang yang sedang bermekaran. Penampakan salju hijau ini terjadi akibat meningkatnya suhu global sebagai dampak perubahan iklim.

"Bercak 'ganggang salju' ini telah ada selama beberapa dekade di Kutub Utara. Tetapi kita tahu, dulu masih sedikit distribusinya di Antartika. Saat ini kami benar-benar melakukan survei berskala besar tumbuhnya ganggang salju di Antartika," kata Andrew Gray dari University of Cambridge.

Dikutip dari New Scientist, dalam penelitian ini Gray dan timnya menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi area hijau di permukaan yang tertutup salju di semenanjung Antartika, bagian benua yang paling cepat menghangatkan, dan pulau-pulau di sekitarnya.

Mereka juga mengunjungi dua pulau untuk mengonfirmasi keandalan data satelit tersebut. Para peneliti menemukan bahwa secara total, ada 1.679 ganggang salju yang sedang mekar.

Ganggang ini menutupi area hingga 1,9 kilometer persegi pada puncak musim panas saat musim mekar terbesarnya. Dua faktor ini tampaknya menjadi syarat yang menentukan di mana ganggang bermekaran.

Faktor pertama, area tersebut harus cukup hangat agar salju mencair. Yang kedua, harus ada sumber nutrisi yaitu dekat dengan koloni penguin. Kotoran penguin menjadi pupuk yang sangat baik bagi tumbuhan.

Wilayah kutub memanas jauh lebih cepat dibandingkan bagian lain di Bumi. Tim juga memperkirakan daerah pesisir Antartika yang lebih rendah, segera terbebas dari ganggang. Pasalnya, wilayah pesisir Antartika yang letaknya lebih rendah ini akan mengalami musim panas yang bebas salju.

"Ketika Antartika terus menghangat, pulau-pulau kecil di dataran rendah, pada titik tertentu di musim panas akan berhenti diselimuti salju," kata Gray.

Sedangkan salju putih, mencerminkan 80% terpaan radiasi. Untuk salju hijau, angka itu mendekati 45%.

"Sebaliknya, di utara semenanjung Antartika kami melihat sejumlah ganggang bermekaran lebih banyak. Kami berasumsi kita cenderung melihat ganggang mekar lebih banyak dan lebih besar dari ini," jelas Gray.

Meluasnya ganggang hijau yang mekar, sehingga membuat salju hijau menyelimuti dataran tinggi di Antartika, menurut Gray, menunjukkan efek dari hilangnya ganggang di permukaan laut.

Dengan lebih banyak populasi ganggang hijau yang mekar, berarti jumlah karbondioksida yang diserap lebih banyak. Tanaman memang berdampak kecil tetapi merugikan albedo lokal, yakni banyaknya panas Matahari yang dipantulkan kembali dari permukaan Bumi ke atmosfer.

Kendati demikian, tim peneliti mengatakan albedo yang berkurang kemungkinan tidak berdampak pada iklim Antartika pada skala yang berarti.

"Namun, akan ada lebih banyak karbon terkunci ke depannya hanya karena salju berada dalam kondisi mencair yang mendukung ganggang berkembang," jelas Gray.

Gray dan timnya berharap akan ada habitat yang lebih cocok untuk ganggang di Antartika agar tumbuhan ini dapat menyerap lebih banyak karbon secara efektif dan menyeluruh.



Simak Video "Rahasia di Balik Kehidupan Bawah Laut Antartika"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fyk)