Selasa, 12 Nov 2019 07:41 WIB

RI Siapkan Taman Nasional Langit Gelap & Teleskop Terbesar di Asia Tenggara

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: detikINET/Adi Fida Rahman Foto: detikINET/Adi Fida Rahman
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sedang membangun observatorium nasional di Timau, Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menariknya, wilayah tempat observatorium ini nantinya akan jadi destinasi Taman Nasional Langit Gelap pertama di Indonesia.

Dalam wawancara Blak-blakan detikcom, Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan observatorium nasional di Timau akan menggantikan observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Jawa Barat.



"1923 sampai dengan 1970an observatorium Bosscha masih berfungsi baik. Pada 1980an kota Bandung sudah semakin terang, polusi cahayanya sudah terlalu tinggi. Jadi untuk memotret galaksi dan objek yang redup sudah sangat sulit," tutur Djamal.

Maka, pada sekitar tahun 2011, tim astronom dari Institut Teknologi Bandung melakukan survei di seluruh Indonesia untuk mencari lokasi yang cocok dijadikan tempat observatorium baru. Pilihan akhirnya jatuh di sekitar lereng gunung Timau, NTT.

Indonesia Akan Punya Taman Nasional Langit Gelap di Kupang Foto: Grandyos Zafna


"Pada 2018 mulai disiapkan pembangunan, ditargetkan 2019 pembangunan tahap awal selesai. Itu kubahnya, kemudian teleskopnya. Kami berharap observatorium ini mulai beroperasi atau kami menyebutnya first light yang diterimanya itu tahun depan," kata Djamal.

Satu hal lagi yang istimewa, disebutkan Djamal bahwa observatorium di Timau ini akan menjadi rumah bagi teleskop terbesar di Asia Tenggara, dengan diameter 3,8 meter.

Diakui Djamal, target pembangunan sedikit molor dari yang dijadwalkan. Akses yang sulit ke wilayah Timau menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi LAPAN dan timnya.

"Tahun ini tadinya ditargetkan untuk bangunannya, untuk kubahnya selesai. Tapi untuk membawa crane ukuran besar, memasang segala macam peralatannya itu jalannya belum siap sepenuhnya jadi ada kemungkinan tahun depan baru bisa selesai," ujarnya.



Diharapkan keberadaan observatorium nasional Timau, bisa menyumbang perkembangan sains dan teknologi antariksa di Indonesia. Selain itu, observatorium Timau juga akan mampu menjadi daya tarik wisatawan karena menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara.

Simak wawancara lengkap dengan Thomas Djamaluddin dalam Blak-blakan detikcom: Bandara Antariksa, Satelit, dan UFO lewat video berikut ini.

[Gambas:Video 20detik]

(rns/fay)