Prediksi Musim Hujan dan Kemarau 2020, Apa Ada Anomali? - Halaman 3

Prediksi Musim Hujan dan Kemarau 2020, Apa Ada Anomali?

Tim - detikInet
Jumat, 01 Nov 2019 16:31 WIB
Halaman ke 3 dari 3
Prediksi Musim Hujan dan Kemarau 2020, Apa Ada Anomali?
Foto: Uje Hartono

"Memperhatikan pemutakhiran prediksi saat ini terkait prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya, serta tidak adanya ancaman potensi anomali iklim global, multi pihak mitra kerja BMKG dan juga masyarakat umum secara luas hendaknya dapat memanfaatkan informasi iklim ini untuk perencanaan jangka pendek tahun 2020," tulis BMKG.

"Pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolam retensi, sistim polder dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian," tambah mereka.

Kesimpulan dan Rekomendasi BMKG

Musim hujan 2019/2020 sebentar lagi dimulai sesuai perkiraan BMKG. Saat ini sebagian daerah telah mulai masa peralihan musim kemarau ke hujan bahkan beberapa daerah (sebanyak 15%) yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumbar, Palembang, Riau, Kaltim, sebagian Sulawesi dan sebagian Papua bagian Barat sudah memasuki musim hujan.

Di masa peralihan atau pancaroba, kondisi cuaca biasanya ditandai perubahan arah angin dan peningkatan kecepatan. Kondisi seperti ini sering menimbulkan cuaca ekstrim seperti angin kencang dan puting beliung. Hal ini perlu diwaspadai. Hujan dapat turun sesaat namun pada sektor pertanian tetap memperhatikan prakiraan yang dikeluarkan BMKG saat akan memulai musim tanam.

Untuk prospek musim kemarau 2020, hasil prediksi menunjukkan prospek curah hujan yang cenderung normal sesuai klimatologisnya dan kecil peluang terjadi gangguan anomali iklim global.

"Kiranya pemenuhan dan penyimpanan cadangan air pada waduk-waduk, embung-embung, kolom retensi, dan sistem polder dapat dilakukan lebih dini pada saat puncak musim hujan hingga peralihan musim, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan mendesak penanganan kebakaran hutan dan lahan serta kebutuhan pertanian," pungkas Dwikorita.



(fyk/fay) (fyk/fay)