Senin, 02 Mar 2015 12:07 WIB

Sosok

Mengenal William Tunggaldjaja: Jajaka Bandung Pemimpin Path

- detikInet
William Tunggaldjaja (rns/detikINET) William Tunggaldjaja (rns/detikINET)
Jakarta - Gaya bicaranya yang beraksen bule akan membuat banyak orang tak menyangka, kalau sosok yang satu ini adalah jajaka alias pemuda asli Bandung. William Tunggaldjaja, si jajaka tersebut, pulang kampung untuk mengurusi jejaring sosial yang sedang populer, Path.

"Saya asli dari Bandung, urang Sunda. Lahir dan tinggal di sana dari kecil, tapi high school, baru saya ke San Diego, Amerika Serikat," kata William memperkenalkan diri.

Melihat perkembangan internet di Indonesia sangat pesat, William memutuskan pulang kampung. Apalagi, akses media sosial, bidang yang saat ini diurusinya, bertumbuh tak kalah cepat. William melihatnya sebagai potensi.

"Untuk social media bisa dibilang pertumbuhannya paling cepat. Tak hanya Path tapi social media lain. Indonesia sebagai salah satu negara besar, jadi key market di dunia. Pasar lain bisa belajar dari Indonesia," ujarnya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini belakangan ramai diperbincangkan lantaran jabatan yang resmi diembannya sejak Februari 2015. Yang menarik, pekerjaan sebagai Country Manager Path Indonesia dilakoninya di usia yang relatif masih muda, 29 tahun.

"Saya diperkenalkan oleh teman ke tim Path, lalu saya bertemu mereka. Kita mengobrol apakah punya visi misi yang sama. Setelah itu juga bertemu dengan Dave--Dave Morin, CEO Path--dan Dave juga align visi misinya. Saya memutuskan bergabung dengan Path," kisahnya mengenai proses bergabung ke Path.

 

Si Kutu Loncat, dari IT ke Bisnis

Melihat latar belakang pendidikannya, William sangat lekat dengan dunia teknologi. Dia mengawali karir sesuai bidang ilmunya, Mechanical Engineering, sebagai Co-Op Equipment Engineer di Johnson & Johnson.

Selepas itu, lulusan University of California, Berkeley, ini melanjutkan karir di markas Microsoft, di Seattle. Selama 6 tahun ini, William mulai kecemplung dalam hal yang berhubungan dengan pengembangan bisnis.

Di kantor pusat raksasa software tersebut, tiga kali ia berganti posisi, yakni sebagai Finance Rotation Program, Corporate Controllership, hingga Finance for Windows 8 Marketing.

 

 

Sejak dua tahun lalu, William memilih pulang ke Indonesia sementara keluarganya masih tinggal di negeri Paman Sam. Seperti kutu loncat, perpindahan karirnya terjadi cukup cepat.

Di 2013, William bergabung dengan Lazada Indonesia sebagai Vice President Campaign Lead selama setahun. Tawaran menjadi Country Manager Indonesia datang di tahun berikutnya dari Zomato. Setelah setahun sukses membantu Zomato berekpansi, Path pun meliriknya.

Lantaran pengalamannya mengembangkan bisnis perusahaan internet dan teknologi, pemuda yang sejak kecil memang menyukai teknologi ini pun dipinang Path sebagai Country Manager untuk Indonesia.

Meski berlatar belakang IT, William mengaku senang dengan tugasnya sekarang yang lebih banyak berhubungan dengan bisnis. Dia mengaku selalu belajar mengatasi tantangan yang dihadapi.

Menurutnya, yang paling berperan penting adalah bagaimana seseorang mau belajar, tidak terpaku pada bidang apa yang dipelajari seseorang selama bersekolah.

"Jadi kalau Anda tidak mempelajari spesific skill, harus mau belajar dan mengaplikasikannya in real life. Saya rasa yang paling penting adalah be humble dan selalu mau belajar kepada orang lain. It's the most important thing for people to success," ujarnya.

Bangga dengan Persaudaraan Orang Indonesia

Selama tinggal di AS, William sering merindukan kampung halaman. Untuk mengobati rasa kangennya tersebut, penyuka olahraga renang dan lari ini biasanya sering berkumpul dengan teman-teman sesama orang Indonesia.

"Orang Indonesia itu sangat kental persaudaraannya. Waktu di Seattle, saya juga kenal beberapa teman Indonesia. Mereka teman baik saya. Setiap Jumat kita suka mengadakan makan siang bersama," kenang William seraya tertawa.

William juga mengaku bangga dengan rasa persaudaraan orang-orang Indonesia. Hal itu juga yang mendorongnya bergabung dengan organisasi non profit Cerdas.

"Kegiatannya raise funding di US. Kita support anak-anak sekolah di Indonesia, membelikan buku. Misalnya kita adakan event Indonesian bazaar, profitnya kita gunakan untuk fund raising pendidikan di Indonesia," jelasnya.

Di organisasi yang berpusat di Seattle tersebut, William menjadi salah satu pengurusnya. Karena senang dengan kegiatannya di organisasi itu, di tengah kesibukannya sekarang, William masih aktif membantu.

"Jadi saya punya kesan orang Indonesia, meskipun ada di mana-mana, jauh dari Tanah Air, persahabatannya kental sekali. Tetap kontribusi untuk Indonesia," jelasnya lagi.

Bos Muda yang Masih Sendiri

William mengaku masing sendiri. Dalam arti, saat ini karyawan Path Indonesia baru dirinya seorang. Sambil menunggu didirikannya kantor Path yang akan berlokasi di kawasan pusat bisnis Jakarta, William mulai fokus meningkatkan user experience dan merekrut sejumlah staf yang nanti akan menjadi bagian dari timnya.

 


"Saya rasa yang paling penting adalah produk. Kami harus punya produk yang dan fitur yang tepat dan mudah digunakan," ujarnya.

Di samping itu, William juga harus memikirkan strategi memperluas dan memperkuat bisnisnya di Indonesia. Untuk PR-nya yang satu ini, William mengaku harus rajin merangkul lebih banyak mitra.

"Kami juga berupaya menjangkau mitra dan komunitas yang tertarik dengan Path untuk berdiskusi. Mereka bisa memanfaatkan Path. Jadi, menghubungkan banyak orang yang punya minat sama terhadap Path juga hal yang tak kalah penting," simpulnya.

Nah, sangat menarik melihat bagaimana sang bos muda ini akan mengawal Path Indonesia. Kita menanti, inovasi dan beragam konten lokal yang dijanjikannya.

Selamat bekerja, bos muda!

(rns/rou)


Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed