Induk TikTok Ikut Bikin Tiruan Clubhouse

Induk TikTok Ikut Bikin Tiruan Clubhouse

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 05 Mar 2021 11:19 WIB
FILE PHOTO: A new Bytedance sign is seen on the facade of its headquarters in Beijing, China August 8, 2018. REUTERS/Stringer/File Photo ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.
Induk TikTok Ikut Bikin Kloningan Clubhouse (Foto: Stringer/Reuters)
Jakarta -

Setelah Clubhouse diblokir di China, tiruannya makin tumbuh subur. Bahkan pemilik TikTok, ByteDance, juga ikut membuat aplikasi audio chat-nya sendiri.

Menurut dua sumber Reuters yang menolak disebutkan namanya, rencana ByteDance masih berada di tahap awal, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (5/3/2021).

Seorang sumber mengatakan CEO ByteDance Zhang Yiming tertarik mengembangkan aplikasi audio chat setelah melihat ramainya diskusi tentang TikTok dan ByteDance di Clubhouse.

Clubhouse mendadak populer di China karena menjadi tempat bagi pengguna internet untuk mendiskusikan topik sensitif seperti kemerdekaan Hong Kong dan perlakuan pemerintah terhadap suku Uighur.

Sejak diblokir di China pada awal Februari lalu, aplikasi tiruan Clubhouse langsung membanjiri Negeri Tirai Bambu. Setidaknya ada belasan aplikasi serupa yang diluncurkan dalam sebulan terakhir.

Salah satunya Xiaomi yang membangkitkan kembali aplikasi Mi Talk sebagai aplikasi audio chat khusus untuk kaum profesional. Eksekutif di industri memperkirakan masih ada banyak aplikasi tiruan Clubhouse lainnya yang sedang dikembangkan.

Tapi aplikasi serupa di China harus dirancang khusus untuk mengakomodasi sensor dan pengawasan dari pemerintah. Contohnya seperti aplikasi Zhiya buatan Lizhi yang diluncurkan tahun 2013 dan biasanya digunakan untuk membicarakan video game.

CEO Lizhi Marco Lai mengatakan aplikasi buatannya mengharuskan pengguna untuk mendaftar menggunakan nama aslinya, yang merupakan salah satu kewajiban di China.

Lizhi juga mempekerjakan pegawai khusus untuk mendengarkan setiap ruang percakapan dan mengerahkan kecerdasan buatan untuk menghapus konten yang tidak diinginkan, seperti pornografi atau isu politik yang sensitif.

Zhiya sempat dicekal oleh regulator China pada tahun 2019, tapi diperbolehkan beroperasi kembali setelah melakukan perbaikan. Lai mengatakan di luar topik politik, ada banyak cara untuk aplikasi audio chat berkembang di China.

"Orang dewasa di China tidak suka mengekspresikan pandangan mereka di publik, kami telah diajarkan untuk tetap low-profile sejak masih muda," kata Lai.

"Pendekatan yang bagus di China adalah dengan hiburan, Anda mengundang semua orang untuk bersenang-senang," sambungnya.

Sementara itu di luar China, raksasa Silicon Valley juga ikut mengembangkan Clubhouse versinya sendiri. Twitter saat ini sedang menguji coba fitur Spaces untuk Android dan iOS.

Facebook juga dikabarkan sedang dalam tahap awal mengembangkan aplikasi audio chat, hanya beberapa hari setelah sang CEO Mark Zuckerberg bergabung di Clubhouse.



Simak Video "Induk TikTok Akuisisi Pembuat Mobile Legends, Gelontorkan Rp 57 T"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)