Mereka Kembangkan Aplikasi Chat dengan Orang yang Telah Tiada

Mereka Kembangkan Aplikasi Chat dengan Orang yang Telah Tiada

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 11 Jan 2021 20:15 WIB
Dadbot
Aplikasi untuk berbincang dengan orang terkasih yang sudah tiada. Foto: CBC
Jakarta -

Merindukan sosok yang telah tiada adalah hal yang wajar. Berbekal perasaan tersebut, ada beberapa orang yang mengembangkan chatbot untuk berbincang dengan orang terkasih yang sudah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Pertama adalah yang dilakukan oleh Eugenia Kuyda. Pada 28 November 2015, seorang pemuda Belarusia meninggal ketika ditabrak mobil di Moskow. Namanya Roman Mazurenko dan saat itu baru berusia 30-an.

Setelah kematiannya, Eugenia kerap merindukan Roman dan membaca kembali ribuan pesan teks yang telah dia kirimkan dengannya mulai tahun 2008, tahun mereka bertemu. Eugenia, yang juga seorang pengusaha dan pengembang perangkat lunak, pun mengerjakan aplikasi messenger bernama Luka yang menggunakan AI untuk meniru dialog manusia.

Terinspirasi oleh episode acara Black Mirror di mana seorang wanita muda, Martha, yang hancur karena kehilangan pacarnya Ash, kemudian menginstal aplikasi yang memungkinkannya untuk terus berkomunikasi dengannya, Eugenia memutuskan untuk memodifikasi Luka.

Eugenia meminta teman dan kerabat Roman untuk mengiriminya pesan tertulis yang mereka terima darinya. Dia mendapatkan beberapa ribu pesan, yang kemudian dia sortir untuk konten yang terlalu pribadi. Dengan bantuan beberapa temannya yang merupakan ilmuwan komputer, dia menciptakan bot yang dapat meniru bahasa manusia dan memungkinkan untuk berkomunikasi dengan 'Roman'.

Luka dan Replika bukanlah satu-satunya penemuan yang dirancang untuk mendengar kabar dari replikasi digital seseorang. Beberapa tahun lalu, James Vlahos, seorang jurnalis Amerika yang telah menjadi penggemar AI sejak kecil, menciptakan apa yang dia sebut 'Dadbot'.

Semuanya dimulai pada 24 April 2016, ketika ayahnya John didiagnosis menderita kanker paru-paru. Setelah mengetahui penyakit ayahnya, James mulai merekam semua percakapan mereka. Setelah 12 sesi, masing-masing satu setengah jam, dia mamppu menyimpan 91.970 kata.

Transkrip yang dicetak mengisi sekitar 203 halaman. Ini semua berisi sejumlah kenangan, lagu, anekdot dan hal-hal menyentuh tentang pernikahan John, poin-poin tertinggi dalam karirnya, serta semua minatnya. Semua materi ini, selain ditranskripsikan, juga diarsipkan dalam file MP3 di komputer James.

Suatu hari, James menemukan sebuah artikel yang mendeskripsikan sebuah proyek yang dilakukan oleh dua peneliti Google. Proyek ini memasukkan sekitar 26 juta baris dialog film ke dalam jaringan saraf untuk membangun chatbot yang dapat berinteraksi dengan manusia. Setelah mencapai tujuannya, kedua peneliti mulai mengajukan serangkaian pertanyaan filosofis kepada chatbot termasuk tentang tujuan hidup.

Terinspirasi dari ini, ia memutuskan untuk menggunakan rekaman ayahnya untuk membuat sesuatu lebih besar dari sekadar buku kenangan. Dia ingat pernah menulis artikel yang membahas PullString (sebelumnya dikenal sebagai ToyTalk), program yang dirancang untuk membuat percakapan dengan karakter fiksi.

James menggunakan PullString untuk mengatur ulang rekaman MP3 ayahnya. Dia juga menggunakannya untuk membuat Dadbot, perangkat lunak yang berfungsi di smartphone dan mensimulasikan percakapan tertulis dengan John, berdasarkan pemrosesan hampir 100.000 kata yang sudah direkam sebelumnya.

Sejak kematian John, James masih mengobrol dengannya untuk meredakan kesedihan dan pukulan atas kehilangan sang Ayah. Selama presentasi publik Dadbot, dia mengatakan bahwa putranya juga terkadang menulis pesan ke 'hantu' digital kakeknya dan menerima balasan. Nada percakapan juga mencerminkan kepribadian almarhum sehingga membuatnya merasa memang sedang berbincang dengan sang ayah. Demikian dikutip detikINET dari Popular Science.



Simak Video "Aplikasi Anti Depresi Buatan Siswa"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)