Deretan Aplikasi yang Dirundung Kontroversi di Tahun 2020

Deretan Aplikasi yang Dirundung Kontroversi di Tahun 2020

Virgina Maulita Putri - detikInet
Rabu, 30 Des 2020 08:15 WIB
Aplikasi video conference Zoom mengakuisisi Keybase untuk meningkatkan keamanan terenkripsi secara end-to-end
Deretan Aplikasi yang Dirundung Kontroversi di Tahun 2020 Foto: Zoom
Jakarta -

Ada jutaan aplikasi dan game yang bisa diunduh di Google Play Store dan Apple App Store. Tidak jarang aplikasi-aplikasi ini mengalami masalah hingga menjadi kontroversi.

Apalagi tahun 2020 membuat banyak orang harus mengandalkan aplikasi dan layanan internet lainnya selama di rumah saja. Berikut beberapa aplikasi yang dirundung kontroversi, seperti dirangkum dari Android Authority:

Zoom

Zoom termasuk salah satu aplikasi yang popularitasnya meroket di tengah pandemi. Mulai dari sekolah, perusahaan, hingga organisasi menggunakan aplikasi video conference ini untuk berkomunikasi dari jarak jauh.

Tapi sayangnya aplikasi besutan Eric Yuan ini sempat tidak bisa menangani lonjakan pengguna. Di awal-awal pandemi, Zoom diterpa masalah zoombombing di mana orang-orang tidak bertanggung jawab bergabung dengan rapat di Zoom tanpa izin dan berbuat onar.

Enkripsi yang ditawarkan Zoom juga ternyata tidak end-to-end. Bahkan 500.000 akun Zoom dijual oleh hacker di forum dark web.

Zoom akhirnya merilis sederet update untuk menangani masalah-masalah tersebut. Zoombombing kini tidak lagi menjadi masalah berkat update yang mewajibkan password untuk rapat dan menyediakan waiting rooms untuk partisipan rapat.

Semua panggilan Zoom juga telah mendapat enkripsi end-to-end. Fitur ini awalnya hanya tersedia untuk pengguna berbayar, tapi setelah keluhan dari banyak pengguna, fitur ini akhirnya disebar ke semua pengguna.

PUBG Mobile dan Ratusan Aplikasi China yang Dicekal India

Berkat kisruh antara pemerintah India dan China, ratusan aplikasi dan game asal China menjadi korban. Sejak bulan Juni 2020, pemerintah India telah mencekal ratusan aplikasi dan game asal China, termasuk PUBG Mobile karena dianggap mengancam keamanan nasional.

Padahal India merupakan salah satu pasar terbesar bagi game battle royale ini. PUBG Corporation pun langsung menjauhkan diri dari Tencent yang merupakan publisher PUBG Mobile di India dan negara-negara lainnya.

Saat ini PUBG Corporation sedang mencari cara agar PUBG Mobile bisa kembali ke India, termasuk membuka kantor baru dan menggelontorkan investasi di negara tersebut. Tapi belum diketahui kapan PUBG Mobile akan kembali dirilis di India.

TikTok

TikTok termasuk salah satu aplikasi China yang dicekal pemerintah India. Tapi mereka juga menghadapi satu negara besar lainnya yaitu Amerika Serikat.

Pemerintah Donald Trump sejak awal tahun ini mencoba mencekal TikTok di negaranya karena alasan privasi. Pemerintah AS berargumen perusahaan induk TikTok, ByteDance, akan menyerahkan data pengguna yang sensitif ke pemerintah China.

TikTok berkali-kali membantah tuduhan tersebut. Agar tidak dicekal, pemerintah AS kemudian mengharuskan TikTok dijual ke perusahaan lain. Beberapa perusahaan besar berniat meminang TikTok, termasuk Microsoft. Tapi akhirnya Oracle yang terpilih menjadi pemilik baru TikTok.

Sampai saat ini nasib TikTok di AS masih belum jelas karena penjualannya masih belum disetujui oleh pemerintah AS maupun China. Padahal pemerintahan Donald Trump akan berakhir dalam hitungan minggu.