Senin, 26 Jun 2006 18:38 WIB

Sistem Biometrik Ungkap 1.800 Kasus Paspor Ganda

- detikInet
Jakarta - Tidak sia-sia Departemen Hukum dan HAM menerapkan sistem paspor biometrik. Sebanyak 1.800 kasus duplikasi terungkap setelah diterapkannya sistem tersebut. Hal itu dikemukakan Kabiro Humas dan Hubungan Luar Negeri, Departemen Hukum dan HAM (Depkum HAM), Taswem Tarib, kepada wartawan di Gedung Depkum HAM, Jl. HR. Rasuna Said Kav.6-7 Kuningan, Jakarta, Senin (26/06/2006). "Dari 700 ribu paspor biometrik, ditemukan 1.800 kasus duplikasi. Sebanyak 75 persennya paspor untuk TKI (Tenaga Kerja Indonesia-red)," ujarnya. Sistem biometrik mulai diterapkan sejak 6 Februari. Menurut Taswem, paspor ini memiliki security yang tinggi, sesuai dengan anjuran International Civil Aviation Organization (ICAO). Sejak 12 Juni 2006, sistem verifikasi biometrik mulai diterapkan di Depkum HAM. "Sistem ini online pada kantor pusat imigrasi dan 103 kantor imigrasi di seluruh Indonesia. Teknologinya Open System sehingga memudahkan bagi Departemen lain untuk mengakses datanya," ujar Taswem. Sistem verifikasi tersebut memungkinkan pelacakan terhadap orang-orang yang berusaha membuat paspor ganda. Ini bisa dilakukan terhadap upaya duplikasi dalam satu kantor imigrasi maupun lintas kantor imigrasi. Penerapan sistem biometrik itu juga diakui Taswem mampu mengurangi tingkat pemalsuan paspor. Selain itu, penerapan sistem ini menyebabkan sistem komputer yang digunakan di seluruh kantor imigrasi seragam. (wsh)

(wsh/)