Minggu, 26 Mei 2019 11:39 WIB

Huawei Masuk Daftar Hitam, Inikah Pertanda China Balas Dendam?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Bendera China. Foto: Internet/ebcitizen.com Bendera China. Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta - China tampaknya mulai menyusun serangan balasan atas tindakan Amerika Serikat yang memasukkan nama Huawei di dalam daftar hitamnya. Hal ini dapat dilihat dari draf regulasi mengenai keamanan siber yang sedang diproses oleh Negeri Tirai Bambu.

Dalam dokumen Cybersecurity Review Measures yang diterbitkan oleh Cyberspace Administration of China, lembaga-lembaga seperti penyedia jaringan telekomunikasi dan layanan keuangan akan diminta untuk mengevaluasi risiko keamanan nasional terlebih dahulu ketika membeli produk dan layanan dari luar negeri.


Penekanan terhadap risiko keamanan nasional di dalam draf aturan tersebut dapat menjadi poin utama dalam strategi China untuk melawan balik Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Samm Sacks, pemerhati kebijakan keamanan siber dan ekonomi digital China.

"China dapat menggunakannya (draf regulasi) untuk memblok pembelian teknologi asal Amerika Serikat dengan dasar keamanan nasional," ucap Sacks, sebagaimana detikINET kutip dari South China Morning Post, Minggu (26/5/2019).

Sayangnya, tidak dijelaskan hal-hal apa saja yang dapat dipertimbangkan sebagai pengusik keamanan nasional. Draf ini sendiri masih membutuhkan masukan hingga 24 Juni mendatang.

Menariknya, risiko keamanan nasional sejatinya juga menjadi dalih pemerintah Negeri Paman Sam dalam memasukkan Huawei ke dalam daftar hitamnya. Sebelum itu pun, Amerika Serikat sudah memandang vendor smartphone tersebut berisiko terhadap keamanan nasional sehingga sejumlah instansi pemerintahan dilarang menggunakan perangkat darinya.

Pandangan itu didasari anggapan bahwa Huawei memiliki hubungan dengan partai komunis China dan perangkat-perangkat miliknya merupakan alat mata-mata. Amerika Serikat sendiri belum pernah memberikan bukti konkret mengenai hal tersebut, pun Huawei yang terus membantah tudingan tersebut.

Dengan kondisi seperti ini, para ahli beranggapan bahwa dunia akan diarahkan pada dua ekosistem teknologi yang berbeda. Hal ini disebabkan kegiatan tolak menolak yang sama-sama dilakukan oleh Amerika Serikat dan China antara satu sama lain.


Selain menjadi balasan terhadap tindakan Amerika Serikat atas Huawei, analis Nick Marro beranggapan bahwa ini juga bisa menjadi respons China atas perang dagang dengan Negeri Paman Sam.

Lebih lanjut, ia juga memperkirakan para perusahaan asing akan memiliki kepatuhan yang tinggi karena mereka tidak akan tahu apa informasi yang diperlukan untuk lolos dari ulasan terkait keamanan nasional China. Selain itu, mereka juga tidak tahu mana yang lebih penting untuk diutamakan. (mon/mon)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed