Selasa, 01 Des 2015 16:00 WIB

Catat! TKDN 4G Bukan Cuma Soal Pabrik, Pabrik & Pabrik

Ardhi Suryadhi - detikInet
Ilustrasi (asj/inet) Ilustrasi (asj/inet)
Jakarta -

Aturan Total Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk smartphone 4G cukup bikin heboh. Terlebih, masih banyak pihak yang menilai jika aturan ini bakal mewajibkan vendor ponsel untuk membangun pabriknya di Indonesia. Padahal mereka salah kaprah.

Menkominfo Rudiantara menegaskan, aturan TKDN 30% untuk ponsel 4G yang bakal diberlakukan pada 1 Januari 2017 bukan berarti memaksa vendor ponsel untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia.

"Kalau TKDN kita konsepnya hanya merelokasi manufaktur maka kita cuma akan jadi blue collar (kerah biru) pada 5-10 tahun ke depan," kata menteri saat berbicara di HUT Mastel ke-22 di kantor Kominfo, Selasa (1/12/2015).

Blue collar atau kerah biru merupakan istilah yang digunakan bagi pekerja kasar atau buruh pabrik. Lawan dari blue collar adalah white collar alias kerah putih yang berarti pekerja kantoran atau kerap disebut sebagai pekerja yang punya keterampilan khusus.

Nah, unsur kerah putih ini yang sejatinya ingin dimunculkan pemerintah terkait aturan TKDN 4G. Yakni agar masyarakat Indonesia tak cuma terjerembab jadi sebatas buruh pabrik.

"Jadi konsepnya harus jelas. Karena di pemikiran teman-teman, TKDN 30% itu hardware jadi bicaranya selalu pabrik, pabrik dan pabrik. Kita harus melihat value. makanya saya bicara ke Kemenperin (Kementerian Perindustrian) bagaimana kita memanfaatkan momentum ini," ungkap Rudiantara.

"Saya juga sudah berbicara dengan global brand dan mereka keberatan karena pemikiran mereka adalah merelokasi manufaktur. Di Vietnam lebih mudah, mau tax insentif dapat, lahan mau di mana disediakan. Di kita (Indonesia-red.) gak bisa bos. Makanya di kita, business process-nya diurai," lanjutnya.

Penguraian tersebut kembali lagi dengan melihat proses dari proses pembuatan ponsel. Yakni dimulai dari aktivitas development yang terdiri dari riset, desain, baru manufaktur.

"Manufaktur sendiri ada dua proses: software dan hardware. Kalau TKDN 30% cuma kita jejali hardware manufaktur maka kita cuma akan jadi blue collar," tegas menteri.

Sebab, yang dicari pemilik pabrik dimana-mana adalah harga termurah. "Karena pemain global ini mikirnya, saya gak peduli mau punya pabrik di mana. Yang penting paling murah. Nah di situlah kita tak akan bisa create value," Rudiantara memaparkan.

Data dari Kementerian Pendidikan Tinggi sendiri merilis angka lulusan sarjana setiap tahunnya ada 1 juta orang di Indonesia. Nah, para lulusan sarjana inilah yang sejatinya berpotensi untuk bisa diserap oleh vendor global.

"(Para lulusan) ini kita coba bawa ke industri, kaena yang bisa mengerti desain lokal adalah orang lokal. Setelah saya bicara ke global brand, ternyata mereka bilang 'oh gitu loh konsepnya', jadi jangan langsung menolak dulu," Rudiantara menandaskan.

(ash/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed