BERITA TERBARU
Selasa, 01 Ags 2017 13:11 WIB

Penampakan Bos Telegram Santap Gurame Bareng Menkominfo

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Menkominfo Foto: Menkominfo
Jakarta - Setelah layanannya diblokir di Indonesia, bos Telegram Pavel Durov pun turun tangan. Setelah memberikan keterangan resmi beberapa waktu lalu, kini Pavel melakukan pertemuan langsung dengan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Pertemuan sendiri akan dilakukan siang ini di Kantor Kemenkominfo, Jakarta. Namun sebelum membahas soal layanan Telegram, Pavel dan Menkominfo mengadakan makan siang bareng.

Tampak bos berwajah tampan itu tersenyum bersama Chief RA dengan hidangan makanan khas Indonesia yang tampak lezat di hadapan. Di antaranya ada gurame goreng dan bakwan jagung. Kemungkinan setelah makan siang ini, mereka akan membicarakan bagaimana solusi agar Telegram tak lagi dicekal Kominfo.

Sebelumnya ketika Telegram diblokir, Durov mengeluarkan pernyataan yang isinya untuk mengklarifikasi, bahwa telah terjadi miskomunikasi selama ini. Dia pun mengakui bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika memang telah menghubungi mereka, namun lambat direspons oleh tim Telegram.

Saksikan Video Bos Telegram Pavel Durov Sambangi Kominfo di 20detik:


Ia mengakui memang ada banyak sekali saluran terkait terorisme di channel Telegram. Namun setiap bulan, Durov mengklaim telah memblokir ribuan saluran publik ISIS dan mempublikasikan daftarnya di @isiswatch.

"Kami terus berusaha untuk lebih efisien dalam mencegah propaganda teroris, dan selalu terbuka terhadap gagasan tentang bagaimana menjadi lebih baik dalam hal ini," kata pria berusia 32 tahun itu.

Untuk memperbaiki masalah ini, khususnya agar Telegram tidak terus diblokir, Durov pun menawarkan tiga solusi kepada pemerintah Indonesia. Pertama, memblokir semua saluran publik terkait teroris yang sebelumnya telah dilaporkan oleh Kominfo.

Kedua, mengirim email ke Kominfo untuk membentuk saluran komunikasi langsung, yang memungkinkan Telegram bekerja lebih efisien dalam mengidentifikasi dan menghalangi propaganda teroris di masa depan.

Ketiga, membentuk tim moderator yang berdedikasi dengan pengetahuan bahasa dan budaya Indonesia untuk dapat memproses laporan konten yang berhubungan dengan teroris lebih cepat dan akurat. (afr/fyk)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed